“maaf, apakah aku membangunkanmu?” suara itu jelas ku
dengar. Mataku sayup terbuka, betapa kagetnya melihat wajah manis itu berada di
dekat wajahku.
“ Adit? “ aku termangu saat kulihat Aditlah yang ada
didekatku.
“Nis, ayo.. ibu nungguin kita di depan.. kamu disuruh makan”
Entah apa yang terjadi padaku, seakan aku dan Adit sudah
seperti mengenal lama. Lalu kami berjalan beriringan menuju ruang makan. Disana
kutemukan ibu sedang bercengkrama dengan seorang pria yang ternyata adalah
ayahku. Aku tersenyum kepada mereka.
“ hei sayang, sudah bangun?” ayahku menyambut kami dengan
senyum lebarnya. Aku membalas senyum. Ku lihat ibu mengambilkan nasi ke piring
ayah.
“sayang, kamu belum cuci muka?” ibu melirik halus padaku.
“ehh iya, kamu belum cuci muka, kamu bauuu..” Adit tertawa
puas.
“apa-apaan kamu, kamu yang ngajakin aku kesini. Ya udah aku
cuci muka dulu ya”
“iya!” mereka serentak menjawab. Membuatku tersenyum
sendiri.
Namun, saat aku mengambil air, air itu terasa sangat
dingin..
“loh.. kenapa? Ibu.. ibu.. bukannya ini air hangat ?”
“ nis,. Cepetan bangun!”
Ku buka kembali mataku, ibu sedang menempelkan air di pipi
dan mataku.
“ loh, kok ibu ? ko.. kita.. Ayah sama Adit mana bu?”
Aku melihat ke kanan
dan ke kiri mencari mereka, bahkan aku sampai berlari keluar kamar sambil
memanggil nama mereka.
“ayah? Adit? Kalian kemana sih? Bukannya kita mau makan?”
Aku kembali ke kamar setelah usahaku sia-sia. Kulihat ibu tidak bergerak sedikitpun dari
tempat dan posisi sebelum aku tinggalkan tadi.
“ibu? Ibu kenapa?” aku menggoyang-goyangkan bahu ibuku.
Mencoba mencari jawab atas pertanyaanku.
“kamu cari apa Nis?” ibuku bertanya pelan..
“aku cari ay...”
Tiba-tiba aku tersadar, semua itu hanya mimpi. Mimpi yang
buruk. Mimpi buruk yang indah. Aku
menyadarinya saat ibu mulai menitikkan air mata. Aku merasa sangat berdosa
padanya.
“maafkan aku ibu.. maaf.. “ aku bersujud dikakinya.
“ibu, aku tak tahu.. aku.. aku .. maaf sudah membuat ibu
menangis”
“ibu,, ibu tidak apa-apa Nis.. apa yang terjadi dalam
mimpimu?” ibu tersenyum , meminta aku menceritakannya.
Aku menceritakan semuanya, setiap detail yang terjadi. Ibu
menangis, tapi tanpa suara. Ibu menangis bahagia dengan senyum yang indah.
“bu, kenapa ibu malah tersenyum?”
“ibu kini tahu, ternyata masih ada bagian dalam dirimu yang
merindukan ayahmu”
Ucapan ibu membuatku tersentak. Aku baru ingat, kalau aku
begitu membenci dia.
“maaf bu. Tapi aku membencinya”
Ibuku kembali tersenyum. Lalu berdiri dan menyuruhku mandi.
MIMPI BURUK APAKAH ITU?!