Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Thursday, June 26, 2014

Surat Untukmu, Nek.

Nek, apa kabarnya nenek disana?
apakah nenek tengah tersenyum melihatku?
ataukah nenek sedih melihat keadaanku?

sekarang aku telah dewasa nek,
tapi aku masih merasa muda.
aku masih merasa kuat, aku masih bisa berlari.
apakah nenek melihatku ?

sekarang aku masih berjuang nek,
banyak hal yang ingin aku penuhi, banyak hal yang ingin ku gapai,
nek, masih ingatkah saat kau datang kerumah,
kau membawakanku banyak sekali makanan,.
kau memberikanku banyak cemilan manis..

aku masih mengingatnya nek, aku masih ..
aku masih teringat saat aku mengucapkan aku membencimu,
berharap jauh darimu,. karena kamu cerewet..
aku masih ingat itu nek,.

aku masih ingat saat kamu membedakan aku dengan mereka,
aaku ingat saat merasa dikucilkan olehmu,
aku ingat saat itu,.
aku ingat saat kau sakit dan aku malas menemanimu,
aku ingat,
betapa berdosanya aku padamu nek,
betapa banyak dosa yang kuperbuat, betapa banyak sakit hati yang kau terima.,
kau tetap menyayangiku, aku tahu, aku lihat..

dan saat aku harus kehilanganmu, betapa kurasa berat hatiku nek,
aku tak ingin jauh,
bahkan melihat kepergianmupun aku tak bisa.
aku masih ingin bersamamu nek
aku masih ingin bersamamu, mengaji bersamamu,
mengobrol banyak denganmu,.
aku masih ingin,, aku masih ingin dikunjungi olehmu, aku ..
aku masih ingin merasakan hangat pelukmu nek,

untuk kesekian kalinya , aku merindukanmu..
aku tak tahu, apakah saat itu aku bermimpi atau tidak..
saat aku sakit.. dua hari tak bisa bergerak..
aku bermimpi kau mengobatiku, kau datang menemuiku..
aku melihat wajahmu sangat cantik nek,
aku melihat itu..
aku mendengar kamu menasihati aku, aku mendengar kau bilang
bahagiakan ibu, bahagiakan ibu, kamu bilang rajinlah aku..

aku tak tahu mengapa esoknya aku sembuh,
aku sembuh !!!
aku minta maaf nek, pesanmu belum ku laksanakan,,
aku minta maaf..
aku belum rajin beribadah, aku masih penuh dosa,.
aku tahu aku cucu yang hina, aku tak pantas..

terimakasih nek, terimakasih untuk setiap makanan yang kau berikan padaku,
aku tahu kau memberiku dada ayam , tapi kamu kepala ayam.
aku tahu itu nek, aku melihat kepala ayam goreng di atas piring di dapurmu.
aku melihatnya nek,.
aku minta maaf.. aku minta maaf..

terimakasih nek, terimakasih untuk setiap hari raya yang kita lewati bersama,
terimakasih untuk sejadah yang kau wariskan padaku, maaf aku jarang menciumnya untuk sembahyang
terimakasih nek, terimakasih..
terimakasih untuk kasih sayangmu, terimakasih nek..
maafkan aku yang penuh kesalahan ini nek..
aku sayang nenek..

untukmu Almh. Uki / ueng .

Seperti Apa Rasanya ?

entah bagaimana rasanya, disayangi orang yang tak pernah ku temui,
mungkin pernah bertemu, mungkin..
mungkin saat itu aku tak tahu bagaimana rupanya,
segagah apa dirinya yang kata nenek dia tulang punggung keluarga,.

entah seberapa tampannya dia sampai nenek pernah bilang dia sangat tampan,
entah seberapa kuatkah dia sampai nenek pernah bilang dia gagah sekali,
entah bagaimana rasanya disayangi,
seorang kakek.

aku selalu merasa, hanya aku
hanya aku yang belum merasakan kasih sayang seorang kakek, merasakan dibela,
disayang, digendong..
melihat seorang kakek bersama cucunya,
lewat di depan mataku, rasanya ingin..
ingin merasakan bagaimana memilikinya.

seperti apa rasanya berjalan, bercanda, mengobrol bersama kakek sendiri
seperti apakah rasanya itu Tuhan,
aku ingin merasakan itu, aku ingin..
aku merasa iri pada mereka yang masih bisa dan pernah digendong,
dipeluk, dibelai, di beri kasih sayang ..

seperti apa rasanya, disayangi kakek nenek secara bersamaan,,
seperti apakah nek ?
aku merasa kasihan pada diriku sendiri,
aku yang berbicara pada siapa??
pada nenek yang sudah di kubur dalam tanah?
pada kakek yang juga di dalam sana tanpa kutahu rupanya?
aku kangen nek, aku kangen..
aku rindu, aku rindu..
aku bahkan tak bisa menemukan bayang kakek dalam apapun, aku bahkan tak melihatnya.

aku iri nek,
aku iri..
:'(

Wednesday, June 25, 2014

aku ini siapa

aku ini siapa, aku bukan siapa-siapa
aku bukan orang yang mengerti,
aku bukan orang yang faham atas perasaan orang,
aku bukan seorang yang perhatian.
memangnya aku siapa.. :(

aku tak pernah menuntut untuk dimengerti orang lain,
tapi mereka menuntut pengertianku,
apakah mereka tahu apa yang aku rasa dan ku pikirkan,
apakah mereka ingin tahu?

aku bosan, Tuhan..
aku bosan memperhatikan mereka tanpa arti
aku bosan dalam keadaan ini, aku ingin berhenti
memikirkan perasaan orang lain,
kenapa? kenapa aku tak bisa menghentikan sifatku ini,,

aku lelah, hatiku selalu sakit,
hatiku sakit tanpa ada yang ingin mengobatinya.

Saturday, June 21, 2014

Bayang yang Tak Kutemukan


aku disini,
entah dengan siapa ku berdiri,
saat bayangmu pergi dan aku mencoba mengejar kakunya dirimu,
kelam membayang hentakkan raga dalam setiap lamunanku,
jarak, jarak tak pernah terbayang akan menggenggam langkah yang entah dimana berujung,

kemana bayanganmu itu?
sejenak terusik hembus angin malam ,
dia berkata kau tengah berada dalam cahaya kerinduan,
dimana akan ku temukan bayangmu yang bernostalgia disini.

hening, tiba saat keheningan merajai detak jantungku,
mengalir dalam sela darahku yang sejak tadi mengingatmu.
kemanakah kamu , jalan yang sedang kucari?
dingin malam mengingatkanku akan hangatnya pelukmu,
bukan itu, bukan seberapa inci antara aku dan kamu dalam bayang itu,
ini tentang perasaan yang merajam.

ini tentang aku dan kamu,
dalam dinginnya kekakuan itu, ada jalan untukku
menemukanmu dalam bait, syair, nada,.
atau bahkan suara angin.
aku merindukanmu, merindu suaramu..
merindu hangatnya perhatian ,

bukan hanya itu, bukan hanya itu,.
kalau semua kata dapat ku ucapkan , mungkin barisan huruf keyboard ini menghilang,
aku tarik dan ku letakkan dengan pena, pada kertas putih di buku harianku.


Thursday, June 19, 2014

Bahagiaku

aku bahagia, saat kau bilang merindu suaraku,
merindu tawa candaku,
aku bahagia. walau mungkin kamu lupa barusaja mengatakannya.

aku bahagia,
terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini,
terimakasih untuk tawa malam hingga membuatku tidur begitu larut
terima kasih untuk kesedihan yang kau ubah seketika menjadi kebahagiaan,

aku bahagia,
terimakasih untuk kebahagiaan ini,
terimakasih untuk kalimat sakral yang kau ucapkan,
terimakasih karena menganggap aku,
terimakasih atas perlakuanmu,
terimakasih atas pelukan hangat yang sebentar ataupun yang lama,

terimakasih.
terimakasih sudah ada di hidupku.


apa lagi yang harus di jelaskan

sejauh apapun aku berlari, menghindarimu bahkan menjauh
sepertinya tak akan merubah kodratku yang menyayangimu,
sederhana sudah menjadi kebiasaanmu,.
aku tak bisa lepas, sesuatu mengikatku disana,.

katamu : " ini bukan seperti yang kamu bayangkan"
katamu : " semua hanya salah paham "
ya sudah, aku harus bagaimana,
memaafkanmu adalah tugasku.

apa lagi yang harus dijelaskan, ya.
semua cukup jelas untukku.
:)

Mencemburuinya.,

pertanyaan hari ini tentang kamu,
apakah aku salah marah padamu,
apakah aku salah mencemburuimu,
apakah aku salah jika aku memperhatikanmu?

apakah ada hal yang harus ku tutupi dalam hubungan ini,
sebuah persahabatan tanpa kejelasan ini,

jika iya,
mengapakah kamu meremehkan perhatianku?
mengapa kamu mencoba melukai hati yang menyayangimu?
mungkin aku telah salah mengartikan semua ini,

andai saja ada waktu antara kita yang menghubungkan cerita lama
dan masa depan yang aku jalani nanti,
apakah aku akan meninggalkanmu?

Yaa Tuhan,
adakah cara agar aku tak mencemburuinya seperti ini,
adakah kesadaranku yang akan mengungkap fakta ini,
adakah kabut yang akan memisahkan kami,

Yaa Tuhan,
salahkah aku bila ku berdo'a agar dia tak berpaling?
salahkah aku jika menginginkan untuk bersamanya,
salahkah aku jika mengharapkan orang yang tak tepat.



Wednesday, June 18, 2014

dilema hari ini

tentang kamu,
ini masih tentang kamu..
ini masih tentang kita yang belum menemukan akhir..
ini masih tentang kamu.

hari ini aku menemukan hatimu yang picik,
entah darimana aku menemukan alasan untuk mencari kesalahanmu
entah alasan apa yang membuatku ingin tahu
apa yang ada dalam social media yang kamu punya.

hari ini aku menemukanmu,
menemukanmu sebagai orang lain.
aku kira kamu tak ada karena memang kamu tak ada,
ternyata pesan dariku kau acuhkan,
dan banyak pesan berjejer darimu untuk mereka,
mereka yang sedang kau dekati,

ini tentang kamu, dan masih tentang kamu,
masih kamu yang sama dengan penemuan yang berbeda.
aku kecewa, pasti.
aku tak tahu, apakah aku harus cemburu?
ataukah aku harus mendiamkanmu.

jauh dalam hati ini, aku kecewa.
jauh dari rasa yang sulit kau cerna. aku ingin marah,
aku tahu ini terlalu jauh untukku.
menyayangimu seperti ini memang caraku.
mencemburuimupun ini sudah jalanku.
aku tak bisa melepasmu,
tapi yang kutemukan hari ini membuatku sangat sakit.

apa yang kau obral pada mereka?
cinta?
apakah mereka akan mencintaimu seperti aku?
apakah mereka akan membelamu sekuat aku?
apa yang kau harapkan ?

ya! apa yang kau harapkan dariku,
dari manusia paling rendah dikalanganmu,
dari aku yang secara fisik tak ada yang bisa kau banggakan.
mengapa kau masih memegangku, kenapa tak kau lepas jauh aku agar bisa bebas mencari.

mengapa harus aku yang mencintaimu seperti ini?
mengapa harus aku yang berjuang mempertahankan rasa ini dengan penuh kesakitan?
aku masi menunggu waktu,
dimana aku menemukan arahku sendiri.

Tuesday, June 17, 2014

Terasa Jauh

semakin terasa jauh hubungan kita, semakin pula ku merasa hatiku jauh.
entah apa yang terjadi padaku,
aku selalu takut jika kamu terlalu jauh menyayangiku.
karena aku merasa aku belum sejauh itu.

aku merasa aku masih polos dan aku masih kekanakan untuk bisa bersamamu
bersama pada ikatan itu,
aku merasa, aku terikat bathin dengan masalaluku,
aku merasa asing ketika aku bersamamu.

tak henti aku mencoba tersenyum,
tapi hatiku,
hatiku tak tahu dimana senyum itu.
aku merasa bukan aku, aku merasa aku hilang, dan entah siapa
yang saat ini bersamamu.

Entah Kapan,.

akankah berakhir, semua penantian bodohku ini,
tentang kamu yang selalu membayangi langkahku,
apakah akan sama perasaan ini,

aku disini mengakui kejeniusanmu,
membuatku bertahan pada rasa yang tak kau anggap.
ini kutukan! itu pikirku.
mungkin selama ini aku telah berbuat salah pada orang lain
dengan kesalahan yang tak bisa termaafkan
hingga aku harus mengalami ini padamu.

aku tahu , mencintaimu dengan keadaan seperti ini
tak akan menguntungkanmu.
aku hanya benalu yang hanya bisa mengganggumu
setiap waktu aku ingin bersamamu, ya! setiap waktu.

entah dari mana perasaan ini muncul,
entah tulisan pena akan mampu menghapusnya
atau malah membuatmu kekal di ingatanku,

aku bahkan tak tahu sedari kapan aku merasakan ini,
apakah saat yang sama seperti waktu kita duduk bersama,
ataukah saat aku kehilanganmu?

Monday, June 16, 2014

TENTANG KAMU, AKU DAN MASA DEPANKU
By Dina Dianawati
Suatu hari aku berjalan di atas dedaunan yang terhampar dimusim kemarau, aku masih melihatmu bersandar di bangku itu tanpa tahu apa yang sedang kau tunggu. Mungkinkah aku? Ataukah orang lain yang sedang kau nanti?
                Aku tak bisa mendekatimu, bahkan memandang wajahmu pun sepertinya aku tak berhak, tak ada sepertinya waktu yang akan mempertemukan kita lagi. Aku takut suatu saat nanti ada sesuatu yang akan memisahkan kita.  Yang membuat kita saling menjauh tanpa ada keinginan untuk berjumpa.
                Jika kau menanyakan ketakutan terbesarku, tentu saja kehilanganmu. Jejak langkah yang tak pernah ingin terhapus oleh derasnya hujan, menjadi semu karena kerasnya angin. Aku tak ingin, tak pernah ingin hal itu terjadi lagi pada kita. Aku pernah kehilanganmu, bahkan mencoba menghilangkanmu dari sini, dari hatiku. Tapi yang kulakukan hanya sia belaka, yang kulakukan hanya memberi goresan luka yang sangat dalam untuk diriku sendiri. Aku menahan, menahan perasaan yang sangat menyiksa melebihi apapun yang pernah kurasakan, menahan rindu yang tak pernah bisa ku ungkapkan. Sedangkan aku tahu kaupun juga merindukan aku.
                Membuang semua kenangan denganmu sebuah hal yang tak mungkin bagiku, meski kenangan-kenangan indah yang baru ingin menghapusnya. Semuanya sia-sia. Perjalanan kita selama empat tahun ini tak cukup membuatku lupa akan semua kenangan kita yang kita lewati bersama. Rasa sakit yang sering ku rasakan karenamu, semua seperti digigit semut. Hanya terasa beberapa detik dan kemudian menghilang.
                Tiga tahun kita berada pada satu tempat yang sama, sekolah yang sama, kelas yang sama, tugas yang sama, kelompok yang sama, dan.. apakah mungkin juga perasaan yang sama? Aku tak tahu. Kepedulianmu selama ini adalah tanda tanya terbesar dalam diriku. Entah itu perasaan seperti apa, akupun tak mungkin harus menerka-nerka isi hatimu.
                Tahun pertama, kamu hadir dalam hidupku dengan semua kekonyolanmu. Tingkah lucumu, ke-kepoanmu, semua yang ada dalam dirimu yang membuatku lupa padanya, pada dia yang dulu mengisi hatiku. Yang bahkan aku lupa bahwa aku pernah menyukainya. Kamu hebat. Tapi aku tak pernah tahu yang akan terjadi berikutnya kepada kita berdua, yang selalu duduk bersama di bangku pojok itu. Aku tak tahu tujuan awalmu, aku memang suka murung ,bahkan menangis sendirian.. tapi apakah itu yang membuatmu penasaran? Aku tak cantik, tak pula pintar. Aku juga tak mudah menyukai orang. Tapi mengapa kau terus datang?
                Apakah kau ingat saat dulu kau duduk sebangku denganku, kita bagaikan hidup berdua dan yang lain terlihat semu. Kita tertawa lepas, bahkan saat guru sedang di depan kelas. Saat itu kita lupa kalau kita sedang belajar, dan guru menegor kita . semua orang di ruangan itu tertawa ke arah kita. Huh, sungguh kekonyolan yang tak dimengerti oleh mereka.
                Tahun ke dua, kita mulai menentukan pilihan kita masing-masing.  Aku dengan kegiatanku dan kamu disana dengan kegiatanmu. Aku tahu, saat itu aku mulai merasa kehilanganmu. Dan aku sering bertanya pada diriku sendiri tentang perasaan ini, apakah aku merasa kau sahabatku ataukah lebih dari itu.
                Tiba saatnya aku tahu kau telah memilih seorang perempuan yang cantik, pintar dan baik untuk menjadi pasanganmu. Entah mengapa suatu perasaan di dalam sini memberontak dan menghancurkan hatiku. Rasanya ada sesuatu yang harusnya aku ketahui, mengapa aku meneteskan air mata saat mendengarnya.
                Saat kau hadir disampingku, keadaan berubah. Yang kamu bicarakan adalah tentangnya, semua hal tentang dia, semuanya bahkan aku kau masukkan kedalam kisahmu dengannya. Aku harus mengorbankan sesuatu yang belum aku ketahui. Setiap kamu terluka olehnya,  aku tak tahu mengapa aku selalu ingin marah, aku selalu ingin menangis, aku selalu menyalahkan diriku sendiri atas semua kesakitanmu. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat, semua langkah yang aku mulai terasa salah dan membuatku takut kehilanganmu.
                Beberapa waktu berlalu, aku tahu dia (pacarmu) berbuat salah, aku tahu dia menduakanmu. Aku tahu dia tak bersungguh-sungguh padamu. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku takut kamu sakit, aku takut kamu kecewa. Akhirnya tiba saatnya kamu dan dia berpisah, semua karena dia lost contac denganmu, kamu datang kerumah, aku tahu kamu sakit , aku tahu kamu ingin menangis, aku mellihat itu dimatamu. Matamu berbicara padaku bahwa kamu kehilangannya, begitu dalam kurasakan kehilanganmu itu, justru membaca matamu itu yang membuatku sakit ..
                Aku sakit mengetahui perasaanmu padanya begitu dalam. Aku menangis saat kau pergi, aku menangisi perasaanmu.  Aku bahkan lupa kesedihanmu. Saat itu hujan turun dan seperti menemaniku dalam tangisku. Ingin rasanya aku memelukmu, dan mengatakan :” aku adalah dia yang kau lukai hatinya.”
                Aku menemukan seorang teman, mungkin dia dibenci yang lain. Tapi tidak denganku. Aku menyukainya. Dia dewasa dan aku menyukai kisah cintanya,. Namun tak selamanya cintanya berakhir bahagia, akhirnya dia jatuh dan terluka. Mungkin tak mudah baginya untuk kehilangan orang yang dia sayangi. Aku iba, disisi lain aku takut saat kamu bilang tentangnya bahwa dia “baik”.
                Aku mulai dihinggapi perasaan takut dan bahagia , aku takut kamu bersamanya untuk waktu yang cukup lama, dan aku takut kehilangan waktu bersamamu. Tapi aku bahagia jika kamu bahagia.
                Benar dugaanku, tahun terakhir kita ditempat yang sama, kamu bersamanya . itu adalah saat-saat yang berat untukku di akhir sekolah . aku harus merasakan sakit yang mungkin akan aku rasakan tiap hari, karena kita berada pada tempat yang sama, dan tentunya suasana yang akan terasa berbeda.
                Aku ingat saat pertama kali kamu sakit yang cukup parah dan mereka mengatakan aku tak boleh terlalu dekat denganmu, itu karena mereka takut aku tertular. Tapi aku tak memperdulikan mereka. Aku terus bersamamu saat itu, aku memegang tanganmu, bahkan sampai kau tertidur disaat istirahat. Tapi kemudian semua menjadi berbeda saat dia hadir, dan mulai menyadari kedekatan kita yang berlebihan. Dia seperti ingin merebutmu dariku. Aku tahu bukan itu kata yang semestinya aku ucapkan, karena memang lebih pantasnya aku yang merebutmu darinya. Aku ini siapa? Sahabatmu itu mungkin lebih pantas. Dia yang memang harusnya ada disampingmu.
                Aku harus melepasmu. Ya ! itu yang kemudian ada dalam pikirku. Aku harus melupakanmu, entah apa yang harus aku lupakan, aku juga tak tahu. Padahal tanpa aku lupakan harusnya aku mengerti, bukankah aku sahabatmu?
                Ada rasa didalam sini yang mengatakan aku harus melakukan itu, menjauh darimu untuk membuat kalian bahagia dan aku juga, mungkin.
                Tapi aku salah, apa yang aku perbuat semua hanya membuatku sakit. Memberikan jalan padanya agar selalu bersamamu malah membuatku selalu menangis. Yang tak bisa ku lupakan adalah saat melihat kamu memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan aku sebelum-sebelumnya. Tidur disandarannya mengingatkanku saat kau tertidur disandaranku. Aku tak bisa.
                Setiap kali aku harus berusaha menghindari keberadaan kalian agar aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tak bisa harus menanggung beban perasaan ini yang membuatku terluka semakin dalam.  
                Aku mengingat saat itu, saat aku melihatmu dengannya bercanda tertawa sedang aku dengan kursi kosong disebelahku mencoba menutup mata, bahkan telingaku untuk tak mendengar dan melihat kalian. Namun semua terekam jelas , dan tanpa ada apapun lagi yang dapat menahanku untuk pergi. Aku pergi , kamu tahu, kamu sadar aku menjadi aneh. kamu mencari aku, ingatkah kamu?
                Kamu mencari aku sampai ke ruang sebelah, kamu tahu aku sedang menangis. Saat kamu datang dan menyuguhkan berbagai pertanyaan, aku hanya diam. Kenapa? Kalau aku bicara , aku pasti takkan sanggup lagi menahan air mata itu.
                Ingat saat itu?
                Saat kamu memelukku saat itu? Saat itu juga aku menangis tak tertahan. Pelukanmu membuatku semakin sakit. Menyadari bahwa kamu tak tahu isi hati ini. Kamu selalu bilang : “mengapa kamu menangis? Ada masalah apa? Cerita dong biar aku bisa bantu”. Laah .. apa yang akan kamu lakukan saat itu jika kamu tahu? Membantu dengan cara apa? Memutuskan dia? Menyakiti dia? Aku tak bisa.
                Satu sisi yang tak pernah bisa ku jelaskan , saat aku melihat isi pesan singkatmu dengannya yang ternyata dia bilang dia cemburu padaku. Aku tahu usaha dia saat itu, saat kita menengok teman kita yang sedang sakit keras. Saat kita berencana pergi berdua, aku tahu saat itu dia sedang mencoba mempertahankanmu. Aku tahu, matanya berbicara padaku. Seperti sedang mengusir aku. Aku mencoba mendamaikan kalian, tapi kau selalu berkata : “sudah, ini bukan salah siapa2, bukan juga salah kamu”. Itu yang kamu ucapkan saat aku menangisi pertengkaran kalian. Tapi, akhirnya Tuhan memberikan aku sebuah jawaban. Aku menemukan pesan itu, pesan dimana kau bilang padanya bahwa aku menangis dan kau menenangkanku.  Kemudian pesan darinya aku baca, dia bertanya apa yang kau lakukan. Apakah kau memelukku atau tidak? Kau jawab , tidak . kau bilang peduli apa denganku. Bagaikan petir siang bolong,  semua terasa mematikanku.
                Kemudian hari-hari selanjutnya kamu kebingungan dengan sikapku yang menjauh.  Jelaslah kamu bingung, kamu kan ga tahu kalau aku membaca isi pesan singkat itu.
                Sore itu langit gelap dan hujan pun turun dengan derasnya menemani air mataku yang tak kunjung berhenti. Sebuah lagu mengalun dari radio kecil itu, dengan liriknya yang sangat aku rasakan keberadaannya disini,.
Di matamu aku tak bermakna 
Tak punyai arti apa-apa 
Kau hanya inginkanku saat kau perlu 
Tak pernah berubah 

Kadang ingin ku tinggalkan semua 
Letih hati menahan dusta 
Di atas pedih ini aku sendiri 
Selalu sendiri 

Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu 

Ku percaya suatu hari nanti 
Aku akan merebut hatimu 
Walau harus menunggu sampai ku tak mampu 
Menunggumu lagi 
Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak mampu

Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu “
Lagu itu, sangat kurasa dalam disini.
Saat kita berlibur bersama waktu itu, ke sebuah pantai yang cukup indah, kita berjalan masing-masing. Aku tahu kita ingin menghabiskan waktu dengan teman-teman kita. Liburan itu terasa lama bagiku, karena dia dengan mudahnya bisa mendekatimu. Sedangkan aku tidak. Aku harus menjaga perasaaan ini.
Liburan berlalu dan aku tahu, itu adalah kesempatan yang ku lewatkan. Padahal, aku bisa menghabiskan waktu bersamamu disana.
Sekarang semua itu sudah berlalu, sudah beberapa tahun kita terpisahkan jarak dan waktu, yang tak ku mengerti mengapa kau selalu ada. Padahal yang lain sudah tak tahu kemana kabarnya. Malam itu saat aku bicara padamu tentang dia yang menjadi pasanganku, kau marah. Why? Kenapa kamu marah? Apakah ada yang salah dengan keputusanku. Kamu tak tahu berapa lama waktu yang harus aku lewati dengan memikirkan perasaan yang ku kira hanya sebelah tangan. Aku bahagia kamu menyayangiku, dan aku rela meninggalkan dia untuk bisa bersamamu. Saat-saat yang kita lewati sebagai pasangan kekasih, aku merasa aku lebih posesif dan mudah marah, mungkin itu yang membuatmu bingung dan mulai bosan. Aku tak tahu, aku hanya takut kehilangan kamu .
Suatu hari setelah beberapa bulan kita menjalani hubungan, kamu mengatakan itu, mengatakan hal yang sangat menyakitkan hatiku. Kamu memutuskan hubungan kita. Why?
Sekali lagi aku bingung dan aku harus menangis karenanya. Sungguh hal yang sangat tak ku inginkan dalam hidup. Aku menghilang, ya! Nomor handphone aku ganti, dan aku tak menghubungimu selama tiga bulan. Aku tahu kamu mencari kabarku. Tapi aku mencoba menutup telinga agar aku bisa melupakanmu. Susah ! andai kamu tahu betapa menyedihkannya 3 bulan tak ada kabar darimu. Aku cek facebook, banyak pesan darimu yang tak ingin ku buka sedikitpun.
Tiga bulan berlalu, dan aku tiba-tiba teringat dirimu, rasa ini sudah tak kuasa untuk ku tahan. Aku menghubungimu lagi, ya! Kali ini kamu merespon dengan sangat berbeda. Kau ketus, kau jutek, kau seperti seorang yang berbeda. Kau marah, mungkin. Bahkan kau mematikan telpon dariku. Aku tahu aku salah, mungkin ini kesalahan terbesarku padamu.
Sampai sekarang kita tetap bersama, walau tak diketahui hubungan seperti apa. Mungkin mereka bilang kita TTM , atau mungkin mereka pikir kita ada dalam hubungan yang serius. Tapi pemikiran terakhir itu ku rasa tak akan terjadi. Sekarang aku memiliki kekasih, dan kamu tahu itu.
Semakin aku bersembunyi, kau tetap mengejar keberadaanku. Setiap kali aku berlari, tak kutemukan pintu lain selain pintu yang kau buka untukku. Mengapa? Mengapakah harus seperti ini?
Aku dan kamu, sudah seperti batu yang tak bisa dihancurkan. Sedangkan aku, aku sudah memiliki seseorang yang akan menjadi masa depanku. Pertama mengenalnya, aku tahu aku bisa bersamanya dalam waktu yang cukup lama, aku yakin dia adalah masa depanku.  Tapi seolah kamu menyadarkan aku sesuatu, seolah kamu menjelaskan bahwa kamu yang terbaik untukku. Kamu bilang kamu tak pu nya apa-apa, kamu tahu kejujuranmu akan melunakkan aku.

Sampai sekarang aku masih belum menemukan akhir ceritaku sendiri, entah  siapakah masa depanku. Apakah kamu, ataukah dia?