Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Monday, June 16, 2014

TENTANG KAMU, AKU DAN MASA DEPANKU
By Dina Dianawati
Suatu hari aku berjalan di atas dedaunan yang terhampar dimusim kemarau, aku masih melihatmu bersandar di bangku itu tanpa tahu apa yang sedang kau tunggu. Mungkinkah aku? Ataukah orang lain yang sedang kau nanti?
                Aku tak bisa mendekatimu, bahkan memandang wajahmu pun sepertinya aku tak berhak, tak ada sepertinya waktu yang akan mempertemukan kita lagi. Aku takut suatu saat nanti ada sesuatu yang akan memisahkan kita.  Yang membuat kita saling menjauh tanpa ada keinginan untuk berjumpa.
                Jika kau menanyakan ketakutan terbesarku, tentu saja kehilanganmu. Jejak langkah yang tak pernah ingin terhapus oleh derasnya hujan, menjadi semu karena kerasnya angin. Aku tak ingin, tak pernah ingin hal itu terjadi lagi pada kita. Aku pernah kehilanganmu, bahkan mencoba menghilangkanmu dari sini, dari hatiku. Tapi yang kulakukan hanya sia belaka, yang kulakukan hanya memberi goresan luka yang sangat dalam untuk diriku sendiri. Aku menahan, menahan perasaan yang sangat menyiksa melebihi apapun yang pernah kurasakan, menahan rindu yang tak pernah bisa ku ungkapkan. Sedangkan aku tahu kaupun juga merindukan aku.
                Membuang semua kenangan denganmu sebuah hal yang tak mungkin bagiku, meski kenangan-kenangan indah yang baru ingin menghapusnya. Semuanya sia-sia. Perjalanan kita selama empat tahun ini tak cukup membuatku lupa akan semua kenangan kita yang kita lewati bersama. Rasa sakit yang sering ku rasakan karenamu, semua seperti digigit semut. Hanya terasa beberapa detik dan kemudian menghilang.
                Tiga tahun kita berada pada satu tempat yang sama, sekolah yang sama, kelas yang sama, tugas yang sama, kelompok yang sama, dan.. apakah mungkin juga perasaan yang sama? Aku tak tahu. Kepedulianmu selama ini adalah tanda tanya terbesar dalam diriku. Entah itu perasaan seperti apa, akupun tak mungkin harus menerka-nerka isi hatimu.
                Tahun pertama, kamu hadir dalam hidupku dengan semua kekonyolanmu. Tingkah lucumu, ke-kepoanmu, semua yang ada dalam dirimu yang membuatku lupa padanya, pada dia yang dulu mengisi hatiku. Yang bahkan aku lupa bahwa aku pernah menyukainya. Kamu hebat. Tapi aku tak pernah tahu yang akan terjadi berikutnya kepada kita berdua, yang selalu duduk bersama di bangku pojok itu. Aku tak tahu tujuan awalmu, aku memang suka murung ,bahkan menangis sendirian.. tapi apakah itu yang membuatmu penasaran? Aku tak cantik, tak pula pintar. Aku juga tak mudah menyukai orang. Tapi mengapa kau terus datang?
                Apakah kau ingat saat dulu kau duduk sebangku denganku, kita bagaikan hidup berdua dan yang lain terlihat semu. Kita tertawa lepas, bahkan saat guru sedang di depan kelas. Saat itu kita lupa kalau kita sedang belajar, dan guru menegor kita . semua orang di ruangan itu tertawa ke arah kita. Huh, sungguh kekonyolan yang tak dimengerti oleh mereka.
                Tahun ke dua, kita mulai menentukan pilihan kita masing-masing.  Aku dengan kegiatanku dan kamu disana dengan kegiatanmu. Aku tahu, saat itu aku mulai merasa kehilanganmu. Dan aku sering bertanya pada diriku sendiri tentang perasaan ini, apakah aku merasa kau sahabatku ataukah lebih dari itu.
                Tiba saatnya aku tahu kau telah memilih seorang perempuan yang cantik, pintar dan baik untuk menjadi pasanganmu. Entah mengapa suatu perasaan di dalam sini memberontak dan menghancurkan hatiku. Rasanya ada sesuatu yang harusnya aku ketahui, mengapa aku meneteskan air mata saat mendengarnya.
                Saat kau hadir disampingku, keadaan berubah. Yang kamu bicarakan adalah tentangnya, semua hal tentang dia, semuanya bahkan aku kau masukkan kedalam kisahmu dengannya. Aku harus mengorbankan sesuatu yang belum aku ketahui. Setiap kamu terluka olehnya,  aku tak tahu mengapa aku selalu ingin marah, aku selalu ingin menangis, aku selalu menyalahkan diriku sendiri atas semua kesakitanmu. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat, semua langkah yang aku mulai terasa salah dan membuatku takut kehilanganmu.
                Beberapa waktu berlalu, aku tahu dia (pacarmu) berbuat salah, aku tahu dia menduakanmu. Aku tahu dia tak bersungguh-sungguh padamu. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku takut kamu sakit, aku takut kamu kecewa. Akhirnya tiba saatnya kamu dan dia berpisah, semua karena dia lost contac denganmu, kamu datang kerumah, aku tahu kamu sakit , aku tahu kamu ingin menangis, aku mellihat itu dimatamu. Matamu berbicara padaku bahwa kamu kehilangannya, begitu dalam kurasakan kehilanganmu itu, justru membaca matamu itu yang membuatku sakit ..
                Aku sakit mengetahui perasaanmu padanya begitu dalam. Aku menangis saat kau pergi, aku menangisi perasaanmu.  Aku bahkan lupa kesedihanmu. Saat itu hujan turun dan seperti menemaniku dalam tangisku. Ingin rasanya aku memelukmu, dan mengatakan :” aku adalah dia yang kau lukai hatinya.”
                Aku menemukan seorang teman, mungkin dia dibenci yang lain. Tapi tidak denganku. Aku menyukainya. Dia dewasa dan aku menyukai kisah cintanya,. Namun tak selamanya cintanya berakhir bahagia, akhirnya dia jatuh dan terluka. Mungkin tak mudah baginya untuk kehilangan orang yang dia sayangi. Aku iba, disisi lain aku takut saat kamu bilang tentangnya bahwa dia “baik”.
                Aku mulai dihinggapi perasaan takut dan bahagia , aku takut kamu bersamanya untuk waktu yang cukup lama, dan aku takut kehilangan waktu bersamamu. Tapi aku bahagia jika kamu bahagia.
                Benar dugaanku, tahun terakhir kita ditempat yang sama, kamu bersamanya . itu adalah saat-saat yang berat untukku di akhir sekolah . aku harus merasakan sakit yang mungkin akan aku rasakan tiap hari, karena kita berada pada tempat yang sama, dan tentunya suasana yang akan terasa berbeda.
                Aku ingat saat pertama kali kamu sakit yang cukup parah dan mereka mengatakan aku tak boleh terlalu dekat denganmu, itu karena mereka takut aku tertular. Tapi aku tak memperdulikan mereka. Aku terus bersamamu saat itu, aku memegang tanganmu, bahkan sampai kau tertidur disaat istirahat. Tapi kemudian semua menjadi berbeda saat dia hadir, dan mulai menyadari kedekatan kita yang berlebihan. Dia seperti ingin merebutmu dariku. Aku tahu bukan itu kata yang semestinya aku ucapkan, karena memang lebih pantasnya aku yang merebutmu darinya. Aku ini siapa? Sahabatmu itu mungkin lebih pantas. Dia yang memang harusnya ada disampingmu.
                Aku harus melepasmu. Ya ! itu yang kemudian ada dalam pikirku. Aku harus melupakanmu, entah apa yang harus aku lupakan, aku juga tak tahu. Padahal tanpa aku lupakan harusnya aku mengerti, bukankah aku sahabatmu?
                Ada rasa didalam sini yang mengatakan aku harus melakukan itu, menjauh darimu untuk membuat kalian bahagia dan aku juga, mungkin.
                Tapi aku salah, apa yang aku perbuat semua hanya membuatku sakit. Memberikan jalan padanya agar selalu bersamamu malah membuatku selalu menangis. Yang tak bisa ku lupakan adalah saat melihat kamu memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan aku sebelum-sebelumnya. Tidur disandarannya mengingatkanku saat kau tertidur disandaranku. Aku tak bisa.
                Setiap kali aku harus berusaha menghindari keberadaan kalian agar aku tak pernah melihatnya lagi. Aku tak bisa harus menanggung beban perasaan ini yang membuatku terluka semakin dalam.  
                Aku mengingat saat itu, saat aku melihatmu dengannya bercanda tertawa sedang aku dengan kursi kosong disebelahku mencoba menutup mata, bahkan telingaku untuk tak mendengar dan melihat kalian. Namun semua terekam jelas , dan tanpa ada apapun lagi yang dapat menahanku untuk pergi. Aku pergi , kamu tahu, kamu sadar aku menjadi aneh. kamu mencari aku, ingatkah kamu?
                Kamu mencari aku sampai ke ruang sebelah, kamu tahu aku sedang menangis. Saat kamu datang dan menyuguhkan berbagai pertanyaan, aku hanya diam. Kenapa? Kalau aku bicara , aku pasti takkan sanggup lagi menahan air mata itu.
                Ingat saat itu?
                Saat kamu memelukku saat itu? Saat itu juga aku menangis tak tertahan. Pelukanmu membuatku semakin sakit. Menyadari bahwa kamu tak tahu isi hati ini. Kamu selalu bilang : “mengapa kamu menangis? Ada masalah apa? Cerita dong biar aku bisa bantu”. Laah .. apa yang akan kamu lakukan saat itu jika kamu tahu? Membantu dengan cara apa? Memutuskan dia? Menyakiti dia? Aku tak bisa.
                Satu sisi yang tak pernah bisa ku jelaskan , saat aku melihat isi pesan singkatmu dengannya yang ternyata dia bilang dia cemburu padaku. Aku tahu usaha dia saat itu, saat kita menengok teman kita yang sedang sakit keras. Saat kita berencana pergi berdua, aku tahu saat itu dia sedang mencoba mempertahankanmu. Aku tahu, matanya berbicara padaku. Seperti sedang mengusir aku. Aku mencoba mendamaikan kalian, tapi kau selalu berkata : “sudah, ini bukan salah siapa2, bukan juga salah kamu”. Itu yang kamu ucapkan saat aku menangisi pertengkaran kalian. Tapi, akhirnya Tuhan memberikan aku sebuah jawaban. Aku menemukan pesan itu, pesan dimana kau bilang padanya bahwa aku menangis dan kau menenangkanku.  Kemudian pesan darinya aku baca, dia bertanya apa yang kau lakukan. Apakah kau memelukku atau tidak? Kau jawab , tidak . kau bilang peduli apa denganku. Bagaikan petir siang bolong,  semua terasa mematikanku.
                Kemudian hari-hari selanjutnya kamu kebingungan dengan sikapku yang menjauh.  Jelaslah kamu bingung, kamu kan ga tahu kalau aku membaca isi pesan singkat itu.
                Sore itu langit gelap dan hujan pun turun dengan derasnya menemani air mataku yang tak kunjung berhenti. Sebuah lagu mengalun dari radio kecil itu, dengan liriknya yang sangat aku rasakan keberadaannya disini,.
Di matamu aku tak bermakna 
Tak punyai arti apa-apa 
Kau hanya inginkanku saat kau perlu 
Tak pernah berubah 

Kadang ingin ku tinggalkan semua 
Letih hati menahan dusta 
Di atas pedih ini aku sendiri 
Selalu sendiri 

Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu 

Ku percaya suatu hari nanti 
Aku akan merebut hatimu 
Walau harus menunggu sampai ku tak mampu 
Menunggumu lagi 
Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak mampu

Serpihan hati ini ku peluk erat 
Akan ku bawa sampai ku mati 
Memendam rasa ini sendirian 
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu “
Lagu itu, sangat kurasa dalam disini.
Saat kita berlibur bersama waktu itu, ke sebuah pantai yang cukup indah, kita berjalan masing-masing. Aku tahu kita ingin menghabiskan waktu dengan teman-teman kita. Liburan itu terasa lama bagiku, karena dia dengan mudahnya bisa mendekatimu. Sedangkan aku tidak. Aku harus menjaga perasaaan ini.
Liburan berlalu dan aku tahu, itu adalah kesempatan yang ku lewatkan. Padahal, aku bisa menghabiskan waktu bersamamu disana.
Sekarang semua itu sudah berlalu, sudah beberapa tahun kita terpisahkan jarak dan waktu, yang tak ku mengerti mengapa kau selalu ada. Padahal yang lain sudah tak tahu kemana kabarnya. Malam itu saat aku bicara padamu tentang dia yang menjadi pasanganku, kau marah. Why? Kenapa kamu marah? Apakah ada yang salah dengan keputusanku. Kamu tak tahu berapa lama waktu yang harus aku lewati dengan memikirkan perasaan yang ku kira hanya sebelah tangan. Aku bahagia kamu menyayangiku, dan aku rela meninggalkan dia untuk bisa bersamamu. Saat-saat yang kita lewati sebagai pasangan kekasih, aku merasa aku lebih posesif dan mudah marah, mungkin itu yang membuatmu bingung dan mulai bosan. Aku tak tahu, aku hanya takut kehilangan kamu .
Suatu hari setelah beberapa bulan kita menjalani hubungan, kamu mengatakan itu, mengatakan hal yang sangat menyakitkan hatiku. Kamu memutuskan hubungan kita. Why?
Sekali lagi aku bingung dan aku harus menangis karenanya. Sungguh hal yang sangat tak ku inginkan dalam hidup. Aku menghilang, ya! Nomor handphone aku ganti, dan aku tak menghubungimu selama tiga bulan. Aku tahu kamu mencari kabarku. Tapi aku mencoba menutup telinga agar aku bisa melupakanmu. Susah ! andai kamu tahu betapa menyedihkannya 3 bulan tak ada kabar darimu. Aku cek facebook, banyak pesan darimu yang tak ingin ku buka sedikitpun.
Tiga bulan berlalu, dan aku tiba-tiba teringat dirimu, rasa ini sudah tak kuasa untuk ku tahan. Aku menghubungimu lagi, ya! Kali ini kamu merespon dengan sangat berbeda. Kau ketus, kau jutek, kau seperti seorang yang berbeda. Kau marah, mungkin. Bahkan kau mematikan telpon dariku. Aku tahu aku salah, mungkin ini kesalahan terbesarku padamu.
Sampai sekarang kita tetap bersama, walau tak diketahui hubungan seperti apa. Mungkin mereka bilang kita TTM , atau mungkin mereka pikir kita ada dalam hubungan yang serius. Tapi pemikiran terakhir itu ku rasa tak akan terjadi. Sekarang aku memiliki kekasih, dan kamu tahu itu.
Semakin aku bersembunyi, kau tetap mengejar keberadaanku. Setiap kali aku berlari, tak kutemukan pintu lain selain pintu yang kau buka untukku. Mengapa? Mengapakah harus seperti ini?
Aku dan kamu, sudah seperti batu yang tak bisa dihancurkan. Sedangkan aku, aku sudah memiliki seseorang yang akan menjadi masa depanku. Pertama mengenalnya, aku tahu aku bisa bersamanya dalam waktu yang cukup lama, aku yakin dia adalah masa depanku.  Tapi seolah kamu menyadarkan aku sesuatu, seolah kamu menjelaskan bahwa kamu yang terbaik untukku. Kamu bilang kamu tak pu nya apa-apa, kamu tahu kejujuranmu akan melunakkan aku.

Sampai sekarang aku masih belum menemukan akhir ceritaku sendiri, entah  siapakah masa depanku. Apakah kamu, ataukah dia? 

No comments:

Post a Comment