Kamu disini, dan itu sudah lebih dari cukup buat aku.
Apa aku bisa berharap lebih dari itu?
Bayanganmu, lengkap dengan senyum itu. Seperti enggan
mengajakku pergi berlalu dari pandanganmu. Apakah mungkin akan lekat selamanya
setelah pertemuan itu? Setelah kamu membuatku enggan berpaling, membuatku kaku
pada selain kamu. Apakah akan lekat dalam memori ini, saat kamu mengajakku
berbicara pada satu musim yang merubah hidupku.
Saat
itu aku duduk di kursi tua di samping
rumahku, aku melihatmu berlari kecil di depan pekarangan rumah. Aku pikir, pria
seperti apa yang berlari pada jam 8 malam? Apakah sedang dikejar maling?
Ataukah dikejar hujan yang deras. Ya, hujan deras.. tiba tiba hujan deras itu
turun, dan aku pun berlari menuju pintu rumah, aku melihatmu berteduh dibawah
pohon besar yang hanya berjarak setidaknya lima meter dari tempatku berdiri.
Seorang pria dengan baju rapi, berdasi.. dan memiliki mata coklat sepertiku.
Saat itu ku pikir kamu orang kantoran yang baru pulang kerja.
Hujan semakin deras
dan aku memutuskan untuk masuk rumah, lagi pula ibu sudah memanggilku. Aku
bergegas masuk kamar, rumahku sederhana. Hanya memiliki dua kamar, satu kamar
mandi, ruang tamu kecil dan dapur yang sangat biasa. Saat itu ibu sudah berada
dikamarnya. Aku melepas sandal sebelum duduk di kasur untuk segera tidur,
kulihat dari jendela hujan belum juga reda, malah semakin besar dan petir
semakin terlihat. CELAKA! Menurut guru di sekolah kalau terjadi hujan dan petir
yang dasyat kita harus menghindari pepohonan.. tiba-tiba aku berlari menuju
kamar ibu, ibu segera bangkit dan menangkap ketakutan dalam diriku.
“tenang
nak, itu hanya petir”
“bukan
itu bu, bukan itu..”
“lantas
apa?”
“diluar
sana ada pria yang berteduh dibawah pohon, kasian dia sendirian dan tidak
membawa payung”
“terus
kamu mau apa?”
“ajak
dia masuk bu, kasihan..”
“tapi
dia laki-laki nak, sedangkan kita berdua perempuan. Kamu sudah remaja, dan ibu
seorang janda. Bagaimana mungkin, apa kata tetangga kalau melihat ada lelaki
asing di rumah kita?”
Tiba-tiba
terdengar suara benda jatuh sangat keras. Aku dan ibu segera keluar rumah untuk
melihat. Dan benar, pohon itu rubuh. Spontan kami berlari mencari laki-laki
itu, takut dia tertimpa pohon. Dan benar saja, laki-laki itu tengah kesakitan
karena kakinya tertindih batang pohon yang besar. Ibu dan aku berusaha
berteriak meminta pertolongan, tapi sia-sia saja, selain rumah kami berada di
ujung desa, suara hujan dan petir telah melenyapkan suara kami. Ibu mencoba
meraih ujung batang dahan , aku membantunya. Setelah beberapa menit akhirnya
kami berhasil dan baju kami semua kotor. Kami pun memapah laki-laki itu masuk
ke rumah. Kasian, kakinya luka berdarah. Ibu menyuruhku mengambil air hangat
dan kain.
“siapa
namamu nak?”
“adit”
“nak
adit sudah makan? Biar ibu buatkan makanan”
“tidak
usah bu, sudah di ijinkan masuk rumah juga sudah bersyukur”
“ah,
nak adit bisa saja. Biar ibu buatkan bubur hangat buat dek adit. Nanti biar
nisa yang membersihkan luka nak adit”
“ah
tidak usah bu..”
“sudah,
nak adit jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri”
Ibu dan
aku berpapasan di dapur, aku melihat ibu membawa beras dari karung.
“nis,
airnya sudah hangat? Cepat temui dek adit di depan, bantuin bersihin lukanya”
“adit?”
“iya,
itu tamu kita.”
“oh iya
bu.”
Oke,
ibuku adalah perempuan yang kuat, dia tidak begitu bisa akrab dengan orang
lain, dan sekarang dengan beberapa menit saja ibu sudah tahu nama tamu itu.
Apakah orangnya menyenangkan? Entahlah, mungkin aku harus sedikit mengobrol.
“mas,
maaf saya bersihin dulu kakinya”
“jangan
panggil mas, adit aja”
“iya
mas, eh adit. “
“makasih
ya udah nolongin,aku ga tahu kalo ga ada kalian aku bakal kayak gimana”
“udah
tugas manusia mas tolong menolong”
“tuh
kan , mas lagi.. aku belum tua tau”
“eh
iya, maaf .. “
Tiba-tiba
ledakan tawa terdengar sampai ke dapur, ibu yang sedari tadi mendengarkan
segera datang membawa bubur hangat untuk adit.
“wah
ada apa ini, ibu ketnggalan moment lucunya ya? Ini nak adit di makan dulu bubur
nya”
“terimakasih
bu, ini nisa tadi kentut bu. Makanya kami ketawa”
“eh?
Adit.. siapa yang kentut? Wah wah.. ini pelanggaran bu,”
Tanganku
meraih kulitnya untuk dicubit, dia tertawa geli.
“mana
kartu kuningnya?”
“ehh..
nak adit, nisa.. jangan berlebihan bercandanya, nanti sakit perut loh..”
“aku ga
bercanda ko bu, ini seriusan”
“adiiiit......”
mataku mulai menajam menatap matanya.
Dan saat itu juga ada sesuatu yang ku
rasakan, entah apa. Semacam atom yang meledak di dalam sini, dihatiku. Matanya
yang tajam dengan alis seperti sayap elang.
“nisa,
niss? “ ibu memanggil.
“eh,
iya bu.. “
“ PR
nya udah dikerjain nak?”
“ udah
bu, tinggal beresin bukunya”
“Ya
sudah, cepat bereskan, lekas bawa bantal kamu satu. Tidur dikamar ibu saja,
biar de adit di kamar kamu. “
“
apa??” aku kaget, tidak biasa ada orang masuk kamarku, terutama orang asing.
“cepat
nis, ibu lelah”
“i..
iya bu”
“dit,
awas ya jangan acak-acak”
“tenang
aja, paling besok kasur kamu udah di atap”
“hahahah”
sambungnya
No comments:
Post a Comment