Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Sunday, December 28, 2014

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 1

Kamu disini, dan itu sudah lebih dari cukup buat aku.
Apa aku bisa berharap lebih dari itu?


       Bayanganmu, lengkap dengan senyum itu. Seperti enggan mengajakku pergi berlalu dari pandanganmu. Apakah mungkin akan lekat selamanya setelah pertemuan itu? Setelah kamu membuatku enggan berpaling, membuatku kaku pada selain kamu. Apakah akan lekat dalam memori ini, saat kamu mengajakku berbicara pada satu musim yang merubah hidupku.

                Saat itu aku  duduk di kursi tua di samping rumahku, aku melihatmu berlari kecil di depan pekarangan rumah. Aku pikir, pria seperti apa yang berlari pada jam 8 malam? Apakah sedang dikejar maling? Ataukah dikejar hujan yang deras. Ya, hujan deras.. tiba tiba hujan deras itu turun, dan aku pun berlari menuju pintu rumah, aku melihatmu berteduh dibawah pohon besar yang hanya berjarak setidaknya lima meter dari tempatku berdiri. Seorang pria dengan baju rapi, berdasi.. dan memiliki mata coklat sepertiku. Saat itu ku pikir kamu orang kantoran yang baru pulang kerja.
 Hujan semakin deras dan aku memutuskan untuk masuk rumah, lagi pula ibu sudah memanggilku. Aku bergegas masuk kamar, rumahku sederhana. Hanya memiliki dua kamar, satu kamar mandi, ruang tamu kecil dan dapur yang sangat biasa. Saat itu ibu sudah berada dikamarnya. Aku melepas sandal sebelum duduk di kasur untuk segera tidur, kulihat dari jendela hujan belum juga reda, malah semakin besar dan petir semakin terlihat. CELAKA! Menurut guru di sekolah kalau terjadi hujan dan petir yang dasyat kita harus menghindari pepohonan.. tiba-tiba aku berlari menuju kamar ibu, ibu segera bangkit dan menangkap ketakutan dalam diriku.

                “tenang nak, itu hanya petir”
                “bukan itu bu, bukan itu..”
                “lantas apa?”
                “diluar sana ada pria yang berteduh dibawah pohon, kasian dia sendirian dan tidak membawa payung”
                “terus kamu mau apa?”
                “ajak dia masuk bu, kasihan..”
                “tapi dia laki-laki nak, sedangkan kita berdua perempuan. Kamu sudah remaja, dan ibu seorang janda. Bagaimana mungkin, apa kata tetangga kalau melihat ada lelaki asing di rumah kita?”

                Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh sangat keras. Aku dan ibu segera keluar rumah untuk melihat. Dan benar, pohon itu rubuh. Spontan kami berlari mencari laki-laki itu, takut dia tertimpa pohon. Dan benar saja, laki-laki itu tengah kesakitan karena kakinya tertindih batang pohon yang besar. Ibu dan aku berusaha berteriak meminta pertolongan, tapi sia-sia saja, selain rumah kami berada di ujung desa, suara hujan dan petir telah melenyapkan suara kami. Ibu mencoba meraih ujung batang dahan , aku membantunya. Setelah beberapa menit akhirnya kami berhasil dan baju kami semua kotor. Kami pun memapah laki-laki itu masuk ke rumah. Kasian, kakinya luka berdarah. Ibu menyuruhku mengambil air hangat dan kain.

                “siapa namamu nak?”
                “adit”
                “nak adit sudah makan? Biar ibu buatkan makanan”
                “tidak usah bu, sudah di ijinkan masuk rumah juga sudah bersyukur”
                “ah, nak adit bisa saja. Biar ibu buatkan bubur hangat buat dek adit. Nanti biar nisa yang membersihkan luka nak adit”
                “ah tidak usah bu..”
                “sudah, nak adit jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri”
                Ibu dan aku berpapasan di dapur, aku melihat ibu membawa beras dari karung.
                “nis, airnya sudah hangat? Cepat temui dek adit di depan, bantuin bersihin lukanya”
                “adit?”
                “iya, itu tamu kita.”
                “oh iya bu.”

                Oke, ibuku adalah perempuan yang kuat, dia tidak begitu bisa akrab dengan orang lain, dan sekarang dengan beberapa menit saja ibu sudah tahu nama tamu itu. Apakah orangnya menyenangkan? Entahlah, mungkin aku harus sedikit mengobrol.

                “mas, maaf saya bersihin dulu kakinya”
                “jangan panggil mas, adit aja”
                “iya mas, eh adit. “
                “makasih ya udah nolongin,aku ga tahu kalo ga ada kalian aku bakal kayak gimana”
                “udah tugas manusia mas tolong menolong”
                “tuh kan , mas lagi.. aku belum tua tau”
                “eh iya, maaf .. “

                Tiba-tiba ledakan tawa terdengar sampai ke dapur, ibu yang sedari tadi mendengarkan segera datang membawa bubur hangat untuk adit.

                “wah ada apa ini, ibu ketnggalan moment lucunya ya? Ini nak adit di makan dulu bubur nya”
                “terimakasih bu, ini nisa tadi kentut bu. Makanya kami ketawa”
                “eh? Adit.. siapa yang kentut? Wah wah.. ini pelanggaran bu,”
                Tanganku meraih kulitnya untuk dicubit, dia tertawa geli.
                “mana kartu kuningnya?”
                “ehh.. nak adit, nisa.. jangan berlebihan bercandanya, nanti sakit perut loh..”
                “aku ga bercanda ko bu, ini seriusan”
                “adiiiit......” mataku mulai menajam menatap matanya.
 Dan saat itu juga ada sesuatu yang ku rasakan, entah apa. Semacam atom yang meledak di dalam sini, dihatiku. Matanya yang tajam dengan alis seperti sayap elang.

                “nisa, niss? “ ibu memanggil.
                “eh, iya bu.. “
                “ PR nya udah dikerjain nak?”
                “ udah bu, tinggal beresin bukunya”
                “Ya sudah, cepat bereskan, lekas bawa bantal kamu satu. Tidur dikamar ibu saja, biar de adit di kamar kamu. “
                “ apa??” aku kaget, tidak biasa ada orang masuk kamarku, terutama orang asing.
                “cepat nis, ibu lelah”
                “i.. iya bu”
                “dit, awas ya jangan acak-acak”
                “tenang aja, paling besok kasur kamu udah di atap”

                “hahahah” sambungnya

No comments:

Post a Comment