TENTANG KAMU, AKU DAN MASA DEPANKU
By Dina Dianawati
Suatu hari aku berjalan di atas
dedaunan yang terhampar dimusim kemarau, aku masih melihatmu bersandar di
bangku itu tanpa tahu apa yang sedang kau tunggu. Mungkinkah aku? Ataukah orang
lain yang sedang kau nanti?
Aku tak
bisa mendekatimu, bahkan memandang wajahmu pun sepertinya aku tak berhak, tak
ada sepertinya waktu yang akan mempertemukan kita lagi. Aku takut suatu saat
nanti ada sesuatu yang akan memisahkan kita.
Yang membuat kita saling menjauh tanpa ada keinginan untuk berjumpa.
Jika
kau menanyakan ketakutan terbesarku, tentu saja kehilanganmu. Jejak langkah
yang tak pernah ingin terhapus oleh derasnya hujan, menjadi semu karena
kerasnya angin. Aku tak ingin, tak pernah ingin hal itu terjadi lagi pada kita.
Aku pernah kehilanganmu, bahkan mencoba menghilangkanmu dari sini, dari hatiku.
Tapi yang kulakukan hanya sia belaka, yang kulakukan hanya memberi goresan luka
yang sangat dalam untuk diriku sendiri. Aku menahan, menahan perasaan yang
sangat menyiksa melebihi apapun yang pernah kurasakan, menahan rindu yang tak
pernah bisa ku ungkapkan. Sedangkan aku tahu kaupun juga merindukan aku.
Membuang
semua kenangan denganmu sebuah hal yang tak mungkin bagiku, meski
kenangan-kenangan indah yang baru ingin menghapusnya. Semuanya sia-sia.
Perjalanan kita selama empat tahun ini tak cukup membuatku lupa akan semua
kenangan kita yang kita lewati bersama. Rasa sakit yang sering ku rasakan
karenamu, semua seperti digigit semut. Hanya terasa beberapa detik dan kemudian
menghilang.
Tiga
tahun kita berada pada satu tempat yang sama, sekolah yang sama, kelas yang
sama, tugas yang sama, kelompok yang sama, dan.. apakah mungkin juga perasaan
yang sama? Aku tak tahu. Kepedulianmu selama ini adalah tanda tanya terbesar
dalam diriku. Entah itu perasaan seperti apa, akupun tak mungkin harus
menerka-nerka isi hatimu.
Tahun
pertama, kamu hadir dalam hidupku dengan semua kekonyolanmu. Tingkah lucumu,
ke-kepoanmu, semua yang ada dalam dirimu yang membuatku lupa padanya, pada dia
yang dulu mengisi hatiku. Yang bahkan aku lupa bahwa aku pernah menyukainya.
Kamu hebat. Tapi aku tak pernah tahu yang akan terjadi berikutnya kepada kita
berdua, yang selalu duduk bersama di bangku pojok itu. Aku tak tahu tujuan
awalmu, aku memang suka murung ,bahkan menangis sendirian.. tapi apakah itu
yang membuatmu penasaran? Aku tak cantik, tak pula pintar. Aku juga tak mudah
menyukai orang. Tapi mengapa kau terus datang?
Apakah kau ingat saat dulu kau
duduk sebangku denganku, kita bagaikan hidup berdua dan yang lain terlihat
semu. Kita tertawa lepas, bahkan saat guru sedang di depan kelas. Saat itu kita
lupa kalau kita sedang belajar, dan guru menegor kita . semua orang di ruangan
itu tertawa ke arah kita. Huh, sungguh kekonyolan yang tak dimengerti oleh
mereka.
Tahun
ke dua, kita mulai menentukan pilihan kita masing-masing. Aku dengan kegiatanku dan kamu disana dengan
kegiatanmu. Aku tahu, saat itu aku mulai merasa kehilanganmu. Dan aku sering
bertanya pada diriku sendiri tentang perasaan ini, apakah aku merasa kau
sahabatku ataukah lebih dari itu.
Tiba
saatnya aku tahu kau telah memilih seorang perempuan yang cantik, pintar dan
baik untuk menjadi pasanganmu. Entah mengapa suatu perasaan di dalam sini
memberontak dan menghancurkan hatiku. Rasanya ada sesuatu yang harusnya aku
ketahui, mengapa aku meneteskan air mata saat mendengarnya.
Saat
kau hadir disampingku, keadaan berubah. Yang kamu bicarakan adalah tentangnya,
semua hal tentang dia, semuanya bahkan aku kau masukkan kedalam kisahmu dengannya.
Aku harus mengorbankan sesuatu yang belum aku ketahui. Setiap kamu terluka
olehnya, aku tak tahu mengapa aku selalu
ingin marah, aku selalu ingin menangis, aku selalu menyalahkan diriku sendiri
atas semua kesakitanmu. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat, semua langkah
yang aku mulai terasa salah dan membuatku takut kehilanganmu.
Beberapa
waktu berlalu, aku tahu dia (pacarmu) berbuat salah, aku tahu dia menduakanmu.
Aku tahu dia tak bersungguh-sungguh padamu. Tapi aku tak mengatakan itu padamu.
Aku takut kamu sakit, aku takut kamu kecewa. Akhirnya tiba saatnya kamu dan dia
berpisah, semua karena dia lost contac denganmu, kamu datang kerumah, aku tahu
kamu sakit , aku tahu kamu ingin menangis, aku mellihat itu dimatamu. Matamu
berbicara padaku bahwa kamu kehilangannya, begitu dalam kurasakan kehilanganmu
itu, justru membaca matamu itu yang membuatku sakit ..
Aku
sakit mengetahui perasaanmu padanya begitu dalam. Aku menangis saat kau pergi,
aku menangisi perasaanmu. Aku bahkan
lupa kesedihanmu. Saat itu hujan turun dan seperti menemaniku dalam tangisku.
Ingin rasanya aku memelukmu, dan mengatakan :” aku adalah dia yang kau lukai
hatinya.”
Aku
menemukan seorang teman, mungkin dia dibenci yang lain. Tapi tidak denganku.
Aku menyukainya. Dia dewasa dan aku menyukai kisah cintanya,. Namun tak
selamanya cintanya berakhir bahagia, akhirnya dia jatuh dan terluka. Mungkin
tak mudah baginya untuk kehilangan orang yang dia sayangi. Aku iba, disisi lain
aku takut saat kamu bilang tentangnya bahwa dia “baik”.
Aku
mulai dihinggapi perasaan takut dan bahagia , aku takut kamu bersamanya untuk
waktu yang cukup lama, dan aku takut kehilangan waktu bersamamu. Tapi aku
bahagia jika kamu bahagia.
Benar
dugaanku, tahun terakhir kita ditempat yang sama, kamu bersamanya . itu adalah
saat-saat yang berat untukku di akhir sekolah . aku harus merasakan sakit yang
mungkin akan aku rasakan tiap hari, karena kita berada pada tempat yang sama,
dan tentunya suasana yang akan terasa berbeda.
Aku
ingat saat pertama kali kamu sakit yang cukup parah dan mereka mengatakan aku
tak boleh terlalu dekat denganmu, itu karena mereka takut aku tertular. Tapi
aku tak memperdulikan mereka. Aku terus bersamamu saat itu, aku memegang
tanganmu, bahkan sampai kau tertidur disaat istirahat. Tapi kemudian semua
menjadi berbeda saat dia hadir, dan mulai menyadari kedekatan kita yang
berlebihan. Dia seperti ingin merebutmu dariku. Aku tahu bukan itu kata yang
semestinya aku ucapkan, karena memang lebih pantasnya aku yang merebutmu
darinya. Aku ini siapa? Sahabatmu itu mungkin lebih pantas. Dia yang memang
harusnya ada disampingmu.
Aku
harus melepasmu. Ya ! itu yang kemudian ada dalam pikirku. Aku harus
melupakanmu, entah apa yang harus aku lupakan, aku juga tak tahu. Padahal tanpa
aku lupakan harusnya aku mengerti, bukankah aku sahabatmu?
Ada
rasa didalam sini yang mengatakan aku harus melakukan itu, menjauh darimu untuk
membuat kalian bahagia dan aku juga, mungkin.
Tapi
aku salah, apa yang aku perbuat semua hanya membuatku sakit. Memberikan jalan
padanya agar selalu bersamamu malah membuatku selalu menangis. Yang tak bisa ku
lupakan adalah saat melihat kamu memperlakukan dia seperti kamu memperlakukan
aku sebelum-sebelumnya. Tidur disandarannya mengingatkanku saat kau tertidur
disandaranku. Aku tak bisa.
Setiap
kali aku harus berusaha menghindari keberadaan kalian agar aku tak pernah
melihatnya lagi. Aku tak bisa harus menanggung beban perasaan ini yang
membuatku terluka semakin dalam.
Aku
mengingat saat itu, saat aku melihatmu dengannya bercanda tertawa sedang aku
dengan kursi kosong disebelahku mencoba menutup mata, bahkan telingaku untuk
tak mendengar dan melihat kalian. Namun semua terekam jelas , dan tanpa ada
apapun lagi yang dapat menahanku untuk pergi. Aku pergi , kamu tahu, kamu sadar
aku menjadi aneh. kamu mencari aku, ingatkah kamu?
Kamu
mencari aku sampai ke ruang sebelah, kamu tahu aku sedang menangis. Saat kamu
datang dan menyuguhkan berbagai pertanyaan, aku hanya diam. Kenapa? Kalau aku
bicara , aku pasti takkan sanggup lagi menahan air mata itu.
Ingat
saat itu?
Saat
kamu memelukku saat itu? Saat itu juga aku menangis tak tertahan. Pelukanmu
membuatku semakin sakit. Menyadari bahwa kamu tak tahu isi hati ini. Kamu
selalu bilang : “mengapa kamu menangis? Ada masalah apa? Cerita dong biar aku
bisa bantu”. Laah .. apa yang akan kamu lakukan saat itu jika kamu tahu?
Membantu dengan cara apa? Memutuskan dia? Menyakiti dia? Aku tak bisa.
Satu
sisi yang tak pernah bisa ku jelaskan , saat aku melihat isi pesan singkatmu
dengannya yang ternyata dia bilang dia cemburu padaku. Aku tahu usaha dia saat
itu, saat kita menengok teman kita yang sedang sakit keras. Saat kita berencana
pergi berdua, aku tahu saat itu dia sedang mencoba mempertahankanmu. Aku tahu,
matanya berbicara padaku. Seperti sedang mengusir aku. Aku mencoba mendamaikan
kalian, tapi kau selalu berkata : “sudah, ini bukan salah siapa2, bukan juga
salah kamu”. Itu yang kamu ucapkan saat aku menangisi pertengkaran kalian.
Tapi, akhirnya Tuhan memberikan aku sebuah jawaban. Aku menemukan pesan itu,
pesan dimana kau bilang padanya bahwa aku menangis dan kau menenangkanku. Kemudian pesan darinya aku baca, dia bertanya
apa yang kau lakukan. Apakah kau memelukku atau tidak? Kau jawab , tidak . kau
bilang peduli apa denganku. Bagaikan petir siang bolong, semua terasa mematikanku.
Kemudian
hari-hari selanjutnya kamu kebingungan dengan sikapku yang menjauh. Jelaslah kamu bingung, kamu kan ga tahu kalau
aku membaca isi pesan singkat itu.
Sore
itu langit gelap dan hujan pun turun dengan derasnya menemani air mataku yang
tak kunjung berhenti. Sebuah lagu mengalun dari radio kecil itu, dengan
liriknya yang sangat aku rasakan keberadaannya disini,.
“Di matamu aku tak
bermakna
Tak punyai arti apa-apa
Kau hanya inginkanku saat kau perlu
Tak pernah berubah
Kadang ingin ku tinggalkan semua
Letih hati menahan dusta
Di atas pedih ini aku sendiri
Selalu sendiri
Serpihan hati ini ku peluk erat
Akan ku bawa sampai ku mati
Memendam rasa ini sendirian
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu
Ku percaya suatu hari nanti
Aku akan merebut hatimu
Walau harus menunggu sampai ku tak mampu
Menunggumu lagi
Serpihan hati ini ku peluk erat
Akan ku bawa sampai ku mati
Memendam rasa ini sendirian
Ku tak tahu mengapa aku tak mampu
Serpihan hati ini ku peluk erat
Akan ku bawa sampai ku mati
Memendam rasa ini sendirian
Ku tak tahu mengapa aku tak bisa melupakanmu “
Lagu itu, sangat kurasa dalam disini.
Saat kita berlibur bersama waktu
itu, ke sebuah pantai yang cukup indah, kita berjalan masing-masing. Aku tahu
kita ingin menghabiskan waktu dengan teman-teman kita. Liburan itu terasa lama
bagiku, karena dia dengan mudahnya bisa mendekatimu. Sedangkan aku tidak. Aku
harus menjaga perasaaan ini.
Liburan berlalu dan aku tahu, itu
adalah kesempatan yang ku lewatkan. Padahal, aku bisa menghabiskan waktu
bersamamu disana.
Sekarang semua itu sudah berlalu,
sudah beberapa tahun kita terpisahkan jarak dan waktu, yang tak ku mengerti
mengapa kau selalu ada. Padahal yang lain sudah tak tahu kemana kabarnya. Malam
itu saat aku bicara padamu tentang dia yang menjadi pasanganku, kau marah. Why?
Kenapa kamu marah? Apakah ada yang salah dengan keputusanku. Kamu tak tahu
berapa lama waktu yang harus aku lewati dengan memikirkan perasaan yang ku kira
hanya sebelah tangan. Aku bahagia kamu menyayangiku, dan aku rela meninggalkan
dia untuk bisa bersamamu. Saat-saat yang kita lewati sebagai pasangan kekasih,
aku merasa aku lebih posesif dan mudah marah, mungkin itu yang membuatmu
bingung dan mulai bosan. Aku tak tahu, aku hanya takut kehilangan kamu .
Suatu hari setelah beberapa bulan
kita menjalani hubungan, kamu mengatakan itu, mengatakan hal yang sangat
menyakitkan hatiku. Kamu memutuskan hubungan kita. Why?
Sekali lagi aku bingung dan aku
harus menangis karenanya. Sungguh hal yang sangat tak ku inginkan dalam hidup.
Aku menghilang, ya! Nomor handphone aku ganti, dan aku tak menghubungimu selama
tiga bulan. Aku tahu kamu mencari kabarku. Tapi aku mencoba menutup telinga
agar aku bisa melupakanmu. Susah ! andai kamu tahu betapa menyedihkannya 3
bulan tak ada kabar darimu. Aku cek facebook, banyak pesan darimu yang tak
ingin ku buka sedikitpun.
Tiga bulan berlalu, dan aku
tiba-tiba teringat dirimu, rasa ini sudah tak kuasa untuk ku tahan. Aku
menghubungimu lagi, ya! Kali ini kamu merespon dengan sangat berbeda. Kau
ketus, kau jutek, kau seperti seorang yang berbeda. Kau marah, mungkin. Bahkan
kau mematikan telpon dariku. Aku tahu aku salah, mungkin ini kesalahan
terbesarku padamu.
Sampai sekarang kita tetap
bersama, walau tak diketahui hubungan seperti apa. Mungkin mereka bilang kita
TTM , atau mungkin mereka pikir kita ada dalam hubungan yang serius. Tapi
pemikiran terakhir itu ku rasa tak akan terjadi. Sekarang aku memiliki kekasih,
dan kamu tahu itu.
Semakin aku bersembunyi, kau
tetap mengejar keberadaanku. Setiap kali aku berlari, tak kutemukan pintu lain
selain pintu yang kau buka untukku. Mengapa? Mengapakah harus seperti ini?
Aku dan kamu, sudah seperti batu
yang tak bisa dihancurkan. Sedangkan aku, aku sudah memiliki seseorang yang
akan menjadi masa depanku. Pertama mengenalnya, aku tahu aku bisa bersamanya
dalam waktu yang cukup lama, aku yakin dia adalah masa depanku. Tapi seolah kamu menyadarkan aku sesuatu,
seolah kamu menjelaskan bahwa kamu yang terbaik untukku. Kamu bilang kamu tak
pu nya apa-apa, kamu tahu kejujuranmu akan melunakkan aku.
Sampai sekarang aku masih belum
menemukan akhir ceritaku sendiri, entah
siapakah masa depanku. Apakah kamu, ataukah dia?