Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Thursday, February 5, 2015

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 5

“maaf, apakah aku membangunkanmu?” suara itu jelas ku dengar. Mataku sayup terbuka, betapa kagetnya melihat wajah manis itu berada di dekat wajahku.

“ Adit? “ aku termangu saat kulihat Aditlah yang ada didekatku.

“Nis, ayo.. ibu nungguin kita di depan.. kamu disuruh makan”

Entah apa yang terjadi padaku, seakan aku dan Adit sudah seperti mengenal lama. Lalu kami berjalan beriringan menuju ruang makan. Disana kutemukan ibu sedang bercengkrama dengan seorang pria yang ternyata adalah ayahku. Aku tersenyum kepada mereka.

“ hei sayang, sudah bangun?” ayahku menyambut kami dengan senyum lebarnya. Aku membalas senyum. Ku lihat ibu mengambilkan nasi ke piring ayah.

“sayang, kamu belum cuci muka?” ibu melirik halus padaku.

“ehh iya, kamu belum cuci muka, kamu bauuu..” Adit tertawa puas.

“apa-apaan kamu, kamu yang ngajakin aku kesini. Ya udah aku cuci muka dulu ya”

“iya!” mereka serentak menjawab. Membuatku tersenyum sendiri.

Namun, saat aku mengambil air, air itu terasa sangat dingin..
“loh.. kenapa? Ibu.. ibu.. bukannya ini air hangat ?”


“ nis,. Cepetan bangun!”

Ku buka kembali mataku, ibu sedang menempelkan air di pipi dan mataku.

“ loh, kok ibu ? ko.. kita.. Ayah sama Adit mana bu?”

 Aku melihat ke kanan dan ke kiri mencari mereka, bahkan aku sampai berlari keluar kamar sambil memanggil nama mereka.

“ayah? Adit? Kalian kemana sih? Bukannya kita mau makan?”

Aku kembali ke kamar setelah usahaku sia-sia.  Kulihat ibu tidak bergerak sedikitpun dari tempat dan posisi sebelum aku tinggalkan tadi.

“ibu? Ibu kenapa?” aku menggoyang-goyangkan bahu ibuku. Mencoba mencari jawab atas pertanyaanku.

“kamu cari apa Nis?” ibuku bertanya pelan..

“aku cari ay...”

Tiba-tiba aku tersadar, semua itu hanya mimpi. Mimpi yang buruk. Mimpi buruk yang indah.  Aku menyadarinya saat ibu mulai menitikkan air mata. Aku merasa sangat berdosa padanya.

“maafkan aku ibu.. maaf.. “ aku bersujud dikakinya.

“ibu, aku tak tahu.. aku.. aku .. maaf sudah membuat ibu menangis”

“ibu,, ibu tidak apa-apa Nis.. apa yang terjadi dalam mimpimu?” ibu tersenyum , meminta aku menceritakannya.

Aku menceritakan semuanya, setiap detail yang terjadi. Ibu menangis, tapi tanpa suara. Ibu menangis bahagia dengan senyum yang indah.

“bu, kenapa ibu malah tersenyum?”

“ibu kini tahu, ternyata masih ada bagian dalam dirimu yang merindukan ayahmu”

Ucapan ibu membuatku tersentak. Aku baru ingat, kalau aku begitu membenci dia.
“maaf bu. Tapi aku membencinya”

Ibuku kembali tersenyum. Lalu berdiri dan menyuruhku mandi.

MIMPI BURUK APAKAH ITU?!


Sunday, February 1, 2015

Cinta itu..

cinta itu bukan tentang raga yang saling berpeluk,
bukan pula tentang rindu yang selalu terucap.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu bukan tentang jarak yang terekam,
bukan pula tentang kata yang terangkai.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu bukan tentang hembus nafas yang menyatu,
bukan pula tentang jemari yang saling menggenggam.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu tentang kamu.
cinta itu tentang aku,
cinta itu tentang kamu, aku,.
yang setiap waktu memikirkan tentang kita.

cinta itu marah yang tenang,
cinta itu egois yang berbicara,
cinta itu tentang kita.

Saturday, January 31, 2015

Benar,

benar,
cinta itu menguatkan, bukan menjatuhkan.
cinta itu menggenggam, bukan melepaskan.
cinta itu mengikat, bukan memisahkan.

benar,
cinta itu rumit, lebih dari rumus-rumus kimia.
aku tahu cinta itu abstrak, aku tahu.
aku tahu cinta itu bukan tentang angka-angka,
aku tahu cinta itu tak sekedar kalimat majemuk ataupun peribahasa yang harus ku artikan.

seperti apa cinta itu?

awalnya ku kira dia makanan,
yang bisa ku habiskan dan kubeli lagi.

namun kenyataan tidak semudah itu.
bagaimana bisa aku menghabiskan satu cinta untuk ku ganti dengan cinta yang baru?
bagaimana bisa aku memakan cinta? menghabiskannya, lalu membeli lagi ?

tidak !

jika cinta dapat kubeli, aku tak mungkin melihat tangisan.
aku tak mungkin melihat banyak orang yang hidup dengan satu cinta.
aku tak mungkin mendengar banyak hal tentang "takdir"

cinta bukan makanan, bukan.
cinta itu air.
bisa tawar, manis, asin, pahit, bahkan beracun.

tapi..
cinta bukan perumpamaan.

Saturday, January 24, 2015

Please Join and Pantau selalu ya :)

Join bareng aku yuk di G+

https://www.google.com/+KamutentangBlogspot1

ketemu aku yuk di facebook  :
cshaarciinhaa@facebook.com

follow aku di twitter :
@dinadianawati  

share sama aku di Instagram :

http://instagram.com/dinadianawati/



Monday, January 19, 2015

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 4

                “udah gapapa, Gani memang bener, lagian siapa juga yang punya pacar.. wlee..” aku mencairkan suasana.

                “jadi, Adit itu siapa?” Dewi masih kepo rupanya.

                “bukan siapa-siapa” kataku

                Mungkin semuanya kurang puas dengan jawabanku, tapi karena ini hari ulang tahunku, mereka enggan banyak bertanya.

                Adit..

                Hmm.. lagi-lagi nama itu muncul dan membuatku gelisah seketika. Pertemuan yang tak lebih dari 24 jam membuatku kalut hanya dengan mendengar namanya. Mengapa ?

                Malam menjelang, Dewi dan yang lainnya pamitan. Aku mengantarkan mereka sampai depan.  Setelah mereka pergi aku segera menemui ibu.

                “ bu, mengapa tadi ibu menyebut nama Adit? Mereka jadi penasaran..”

                “ lah, biarin aja Nisa, biasanya juga kalo nyebut nama cowok nisa ga pernah marah kan, anak-anak juga sudah paham..”

                “tapi bu..”

                “kenapa Nis.. kamu sudah besar. Siapa yang tahu jodoh kita itu siapa. Ibu sudah jelas, bukan jodoh ayahmu..” ibu menarik nafas panjang. Aku merasa bersalah mengingatkan ibu pada ayah yang entah dimana. Aku tahu ibu merindukan ayah. Aku tahu ibu masih sayang sama ayah, walau ibu tidak pernah mengatakannya padaku.

                “maafkan aku bu..” aku memeluk ibu.

                “tak apa Nis, ibu mengerti.. bukalah hatimu Nis.. jangan tutupi hatimu hanya karena kesalahan ayahmu itu” ibu menguatkan aku.

Tok tok tok..

Suara pintu diketuk pelan oleh seseorang. Siapa malam-malam seperti ini datang ke rumah. Ibu berdiri hendak membuka pintu, namun aku melarangnya.

“sudah, ibu duduk saja, biar Nisa yang membuka nya” aku melangkah menuju daun pintu tua itu. 

Dalam hati, entah mengapa aku selalu berharap Aditlah yang datang.

Pintu terbuka pelan, seorang pria membelakangiku. Sepertinya aku mengenalnya. Baju yang sama seperti yang Gani kenakan tadi. Dia berbalik badan, ada yang berbeda. Berbeda karena dia membawa setangkai bunga mawar.

“ Gani? Ada apa?” tanyaku datar.

“ selamat ulang tahun, Nisa” Gani memberikan bunga mawar di tangannya.

“ makasih Gan, tapi.. bukannya tadi kamu udah pulang?” aku heran dengan sikap Gani yang tak seperti biasanya. Gani tak pernah memberikan bunga padaku. Terakhir ku lihat dia memberikan bunga adalah sewaktu smp, itu juga bukan padaku.

“ Nis, aku ..” Gani tidak meneruskan ucapannya karena ibu menghampiri kami.

“ eh,, nak Gani.. kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan ya?” ibu memandang bunga yang ku pegang. Ibu tersenyum.

“ eh masuk di dalam ngobrolnya.. ibu sudah ngantuk. Ibu tidur duluan ya..”

Sebenarnya aku tahu ibu berbohong, ibu hanya ingin memberikan waktu untuk kami bicara, padahal biasanya kami selalu berbincang bersama. Ini bukan jam tidur ibu.

                Aku mengajak Gani masuk. Kami duduk di kursi tamu. Gani terlihat gugup. Kami berbincang banyak hal seperti biasanya. Namun ternyata Gani tak lama di rumah, dia ijin pamit pulang. Aku meng iya kannya. Di depan rumah Gani memberikan aku sebuah kado. Bentuknya kecil. Entah apa isinya. Ku ucapkan terima kasih, dan dia pun pulang.


                Segera ku kunci pintu dan masuk ke kamar. Kado dari Gani kuletakkan di atas meja kamar, entah mengapa aku belum mau membukanya. Aku mengambil posisi tidur. Menatap kado itu sampai aku terlelap.

Thursday, January 15, 2015

lyrics of Maudy Ayunda - know yourself

Hi survivors meet again
I've been avoiding you
My bad was the one you were here

It is not easy for me
It seemed not want to breathe again
Standing in front of you now

The pain this heart pierced
Against love in heart

And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again

Bye-bye again
Although still want to look at you
You'd better not here

It is not easy for me
Stop all the crazy delusion
If you were there and I can only

Inflamed be by your side
Hating my fate unchanged

And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again

Many times you said you love but can not
Many times I have promised to give up

And I know myself efforts do not always succeed
And I know myself efforts do not always succeed
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone
Go, disappear alone
Go, disappear alone again

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 3

             Iya, aku memang seperti mendapat luka yang amat perih saat ayah meninggalkan kami untuk wanita lain yang notabennya janda.
                Aku tak cukup kuat menerima pengakuan ayah bahwa ia akan pergi dan memutuskan menceraikan ibu. Meninggalkan aku anak semata wayang mereka.

                “iya, nisa pasti masih sedih karena..” ucapan ibu terpotong oleh kehadiranku.

                “ibu, jangan.” Ucapku.

                Ibu mengerti arti dari perkataanku, adit hanya mengerutkan dahinya pertanda tak mengerti dan mulai kepo.

                “nah loh, katanya mau mandi, ko balik lagi?” tanya Adit.

                “mau ambil handuk” 

                “oh iya, kayaknya Adit harus segera pulang bu”

                “pulang?”

                “iya bu, makasih ya bu, nis.. sudah membantu saya tadi malam bahkan mengijinkan pria malang ini untuk bermalam..”

                “huss, nak adit ga boleh bilang seperti itu. Ibu dan Nisa ikhlas ko,”

                “makasih bu, Adit pamit dulu ya..”

                “Nisa..?” ibu mengejutkan lamunanku.

                “ ya bu?”

                “ kenapa kamu diam saja? Itu nak Adit mau pulang”

                “eh.. i..iya.. pulang aja sana”

                “huss, jangan gitu nisa..”

                “tidak mengapa bu, nisa memang orangnya gitu, suka bercanda.” Timpal Adit.

                Adit melangkah pergi, kulihat punggungnya yang sendu. Pria yang misterius. Rasanya ada kesedihan dalam hatinya yang tak pernah dia katakan pada orang lain. Bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan. Aku segera ke kamar mandi untuk mandi.

                Sore ini teman-temanku datang ke rumah, mereka ternyata mengingat hari ini. Sambil membawa kue mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” seperti anak SD. Padahal usia kami sudah 18-19 tahun. Tak ada yang berubah pada kami berlima. Dewi yang tomboy, Anis yang muslimah banget, Alya yang manja, Gani yang pendiem, dan aku yang semerawut. Kami sudah bersama sejak kelas 1 smp, sekarang kami kelas 3 sma. Persahabatan yang menyenangkan bersama mereka.

                “eh, ga kerasa ya, kamu sekarang udah tua lagi, padahal berasa baru kemarin nyiram kamu pake tepung di sekolah” ejek Dewi. Aku mengerutkan dahi , ingin sekali mencubit pipinya yang tembem itu.

                “ iya, kalo udah tua kayak gini harusnya udah punya pacar nih.” Alya meneruskan.

                “apaan sih kalian, baru juga 18.. bukan 81.. hahaha” aku membalas.

                Tiba-tiba aku teringat Adit. Kira-kira dimana dia sekarang..

                “haloo.. ehemm ehemm..” Alya mengganggu lamunanku.

                “kenapa Nis?” Adi yang sedari tadi diam dengan kue ditangannya berbicara.

                “ tak apa, hanya..” obrolanku terpotong oleh kedatangan ibu.

                “Nisa pasti masih ingat sama nak Adit , makanya dia melamun” ibu tersenyum , muka ku merah, tak menyangka ibu mengatakan itu pada sahabat-sahabatku. Ya,, walaupun ucapan ibu itu benar. Semua memandangku, mereka mengira pria bernama Adit itu adalah pacarku.

                “heh, ngapain sih kalian mandangin aku kayak gitu?” aku menyadarkan mereka

                “ jadi ,, kamu udah punya pacar?” tanya Alya

                “ kenapa kamu ga bilang kita sih?” dewi memasang wajah cemberut

                “ mana pacar kamu? Kenalin dong!” Anis bersemangat.

                “pacar? Kamu yakin?” tiba-tiba ucapan Gani seakan membuat suasana menjadi kaku.

                “loh, emang kenapa ? kan bagus kalo Nisa udah punya pacar..” Anis membalas Gani.


                Sebenarnya aku berpikir Gani benar, aku memang susah untuk jatuh cinta. Walaupun aku jatuh cinta, aku tak akan pernah berpikir untuk berpacaran. Aku masih trauma dengan perginya ayah dari kehidupan kami. Aku harus sangat selektif dalam memilih pendamping. Jangan yang hanya datang untuk pergi.

Friday, January 2, 2015

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 2

             Malam itu berlalu dengan panjang, aku masih saja tak bisa terpejam. Hingga pagi datang dan dia terbangun. Pagi sekali ibu sudah pergi ke pasar , aku membereskan rumah . tiba-tiba sebuah tangan kurasakan menepuk pundakku, saat ku toleh..

                “hahahahaha.. selamat ulang tahun !!” teriak adit sambil melempar tepung ke arahku.

                Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia tahu hari ini hari ulang tahunku? Bagaimana bisa dia menyiapkan semuanya? Tepung itu? Darimana dia mendapatkannya? Bukankah ibu barusaja pergi ke pasar untuk membelinya.

            “eh? Ko kamu tahu ini hari ulang tahun aku?” tanyaku ketus

            “anak cantik jangan ketus-ketus.. nanti jadi jelek, apalagi wajahnya putih-putih,, ihhhh..serem .. hahahaha”

            “jadi kenapa? Kok tahu?”

            “bukan tahu, itu tepung dek.”

            “astaga..” benar-benar bikin nafsu meledak ini cowok, pikirku..
            Akhirnya kuputuskan melempar telur yang ada di dapur..

            “hahahahaha..” tawaku meledak seketika. Melihat dia berlumurkan telur,, dan baunya tidak seindah bayangan kalau udah ku goreng nanti siang.
            Dia pun berlari mendekatiku, mencoba memberikan sisa-sisa telur diwajahnya. Aku berlari dan tak sengaja menyenggol kursi itu, tiba-tiba..

            Brugggg...

            Tangannya yang sigap menangkap badanku yang hendak jatuh. Dan dia bersedia menjadi kursi empuk saat aku terjatuh.
            “aww,, sakit tau, “
            “laah? Siapa suruh jadi tempat duduk?”
            “eh? Yang bikin sakitnya bukan jatuhnya, tapi beratnya. Lu berat banget , berdiri sanah!”
            “eh iya, maaf”
            Pintu pun diketuk, ibu sudah pulang.
            “nisa, ibu pulang.”
            “iya bu, sebentar.”

            Aku segera berlari menuju pintu, dan saat pintu terbuka. Ibu kaget dan langsung tertawa.

            “hahaha,, aduh nisa abis ngapain kamu, kamu kenapa wajah belepotan kayak gitu, ada teman-temanmu ya?”
            “ngga ada bu, tanya aja sama Adit, aku mau mandi dulu”
            Kataku ngeleos aja ke kamar mandi.
            “loh? Nak Adit kenapa nak adit bau amis gini? Itu rambutnya kenapa,.” Kata ibu sambil nahan ketawanya.
            “ga kenapa-kenapa bu, tadi cuman bercandaan sama Nisa, hari ini kan Nisa ulang tahun.”
            “loh? Bagaimana nak Adit tahu? Padahal ibu belum mengucapkan apapun”
            “tadi malam aku ga sengaja lihat buku lapor Nisa di atas kasur, ada nama NISA KHADIJAH di bukunya , ada tanggal lahirnya juga.”

            Memang aku barusaja menerima raport dari sekolah, dan aku bangga hasilnya 9 semua.
 Ibu rencananya mau merayakan ulang tahunku dan hasil Raportku kemarin.

            “baguslah kalo nisa dapat teman baru seperti nak Adit, pasti Nisa bisa cepat lupa sama luka hatinya”

            “luka..?” Adit terperangah.