Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Thursday, January 15, 2015

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 3

             Iya, aku memang seperti mendapat luka yang amat perih saat ayah meninggalkan kami untuk wanita lain yang notabennya janda.
                Aku tak cukup kuat menerima pengakuan ayah bahwa ia akan pergi dan memutuskan menceraikan ibu. Meninggalkan aku anak semata wayang mereka.

                “iya, nisa pasti masih sedih karena..” ucapan ibu terpotong oleh kehadiranku.

                “ibu, jangan.” Ucapku.

                Ibu mengerti arti dari perkataanku, adit hanya mengerutkan dahinya pertanda tak mengerti dan mulai kepo.

                “nah loh, katanya mau mandi, ko balik lagi?” tanya Adit.

                “mau ambil handuk” 

                “oh iya, kayaknya Adit harus segera pulang bu”

                “pulang?”

                “iya bu, makasih ya bu, nis.. sudah membantu saya tadi malam bahkan mengijinkan pria malang ini untuk bermalam..”

                “huss, nak adit ga boleh bilang seperti itu. Ibu dan Nisa ikhlas ko,”

                “makasih bu, Adit pamit dulu ya..”

                “Nisa..?” ibu mengejutkan lamunanku.

                “ ya bu?”

                “ kenapa kamu diam saja? Itu nak Adit mau pulang”

                “eh.. i..iya.. pulang aja sana”

                “huss, jangan gitu nisa..”

                “tidak mengapa bu, nisa memang orangnya gitu, suka bercanda.” Timpal Adit.

                Adit melangkah pergi, kulihat punggungnya yang sendu. Pria yang misterius. Rasanya ada kesedihan dalam hatinya yang tak pernah dia katakan pada orang lain. Bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan. Aku segera ke kamar mandi untuk mandi.

                Sore ini teman-temanku datang ke rumah, mereka ternyata mengingat hari ini. Sambil membawa kue mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” seperti anak SD. Padahal usia kami sudah 18-19 tahun. Tak ada yang berubah pada kami berlima. Dewi yang tomboy, Anis yang muslimah banget, Alya yang manja, Gani yang pendiem, dan aku yang semerawut. Kami sudah bersama sejak kelas 1 smp, sekarang kami kelas 3 sma. Persahabatan yang menyenangkan bersama mereka.

                “eh, ga kerasa ya, kamu sekarang udah tua lagi, padahal berasa baru kemarin nyiram kamu pake tepung di sekolah” ejek Dewi. Aku mengerutkan dahi , ingin sekali mencubit pipinya yang tembem itu.

                “ iya, kalo udah tua kayak gini harusnya udah punya pacar nih.” Alya meneruskan.

                “apaan sih kalian, baru juga 18.. bukan 81.. hahaha” aku membalas.

                Tiba-tiba aku teringat Adit. Kira-kira dimana dia sekarang..

                “haloo.. ehemm ehemm..” Alya mengganggu lamunanku.

                “kenapa Nis?” Adi yang sedari tadi diam dengan kue ditangannya berbicara.

                “ tak apa, hanya..” obrolanku terpotong oleh kedatangan ibu.

                “Nisa pasti masih ingat sama nak Adit , makanya dia melamun” ibu tersenyum , muka ku merah, tak menyangka ibu mengatakan itu pada sahabat-sahabatku. Ya,, walaupun ucapan ibu itu benar. Semua memandangku, mereka mengira pria bernama Adit itu adalah pacarku.

                “heh, ngapain sih kalian mandangin aku kayak gitu?” aku menyadarkan mereka

                “ jadi ,, kamu udah punya pacar?” tanya Alya

                “ kenapa kamu ga bilang kita sih?” dewi memasang wajah cemberut

                “ mana pacar kamu? Kenalin dong!” Anis bersemangat.

                “pacar? Kamu yakin?” tiba-tiba ucapan Gani seakan membuat suasana menjadi kaku.

                “loh, emang kenapa ? kan bagus kalo Nisa udah punya pacar..” Anis membalas Gani.


                Sebenarnya aku berpikir Gani benar, aku memang susah untuk jatuh cinta. Walaupun aku jatuh cinta, aku tak akan pernah berpikir untuk berpacaran. Aku masih trauma dengan perginya ayah dari kehidupan kami. Aku harus sangat selektif dalam memilih pendamping. Jangan yang hanya datang untuk pergi.

No comments:

Post a Comment