Iya, aku
memang seperti mendapat luka yang amat perih saat ayah meninggalkan kami untuk
wanita lain yang notabennya janda.
Aku tak
cukup kuat menerima pengakuan ayah bahwa ia akan pergi dan memutuskan
menceraikan ibu. Meninggalkan aku anak semata wayang mereka.
“iya,
nisa pasti masih sedih karena..” ucapan ibu terpotong oleh kehadiranku.
“ibu,
jangan.” Ucapku.
Ibu
mengerti arti dari perkataanku, adit hanya mengerutkan dahinya pertanda tak
mengerti dan mulai kepo.
“nah
loh, katanya mau mandi, ko balik lagi?” tanya Adit.
“mau
ambil handuk”
“oh
iya, kayaknya Adit harus segera pulang bu”
“pulang?”
“iya
bu, makasih ya bu, nis.. sudah membantu saya tadi malam bahkan mengijinkan pria
malang ini untuk bermalam..”
“huss,
nak adit ga boleh bilang seperti itu. Ibu dan Nisa ikhlas ko,”
“makasih
bu, Adit pamit dulu ya..”
“Nisa..?”
ibu mengejutkan lamunanku.
“ ya
bu?”
“
kenapa kamu diam saja? Itu nak Adit mau pulang”
“eh..
i..iya.. pulang aja sana”
“huss,
jangan gitu nisa..”
“tidak
mengapa bu, nisa memang orangnya gitu, suka bercanda.” Timpal Adit.
Adit
melangkah pergi, kulihat punggungnya yang sendu. Pria yang misterius. Rasanya
ada kesedihan dalam hatinya yang tak pernah dia katakan pada orang lain.
Bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan. Aku segera ke kamar mandi untuk
mandi.
Sore
ini teman-temanku datang ke rumah, mereka ternyata mengingat hari ini. Sambil
membawa kue mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” seperti anak SD. Padahal
usia kami sudah 18-19 tahun. Tak ada yang berubah pada kami berlima. Dewi yang
tomboy, Anis yang muslimah banget, Alya yang manja, Gani yang pendiem, dan aku
yang semerawut. Kami sudah bersama sejak kelas 1 smp, sekarang kami kelas 3
sma. Persahabatan yang menyenangkan bersama mereka.
“eh, ga
kerasa ya, kamu sekarang udah tua lagi, padahal berasa baru kemarin nyiram kamu
pake tepung di sekolah” ejek Dewi. Aku mengerutkan dahi , ingin sekali mencubit
pipinya yang tembem itu.
“ iya,
kalo udah tua kayak gini harusnya udah punya pacar nih.” Alya meneruskan.
“apaan
sih kalian, baru juga 18.. bukan 81.. hahaha” aku membalas.
Tiba-tiba
aku teringat Adit. Kira-kira dimana dia sekarang..
“haloo..
ehemm ehemm..” Alya mengganggu lamunanku.
“kenapa
Nis?” Adi yang sedari tadi diam dengan kue ditangannya berbicara.
“ tak
apa, hanya..” obrolanku terpotong oleh kedatangan ibu.
“Nisa
pasti masih ingat sama nak Adit , makanya dia melamun” ibu tersenyum , muka ku
merah, tak menyangka ibu mengatakan itu pada sahabat-sahabatku. Ya,, walaupun
ucapan ibu itu benar. Semua memandangku, mereka mengira pria bernama Adit itu
adalah pacarku.
“heh,
ngapain sih kalian mandangin aku kayak gitu?” aku menyadarkan mereka
“ jadi
,, kamu udah punya pacar?” tanya Alya
“
kenapa kamu ga bilang kita sih?” dewi memasang wajah cemberut
“ mana
pacar kamu? Kenalin dong!” Anis bersemangat.
“pacar?
Kamu yakin?” tiba-tiba ucapan Gani seakan membuat suasana menjadi kaku.
“loh,
emang kenapa ? kan bagus kalo Nisa udah punya pacar..” Anis membalas Gani.
Sebenarnya
aku berpikir Gani benar, aku memang susah untuk jatuh cinta. Walaupun aku jatuh
cinta, aku tak akan pernah berpikir untuk berpacaran. Aku masih trauma dengan
perginya ayah dari kehidupan kami. Aku harus sangat selektif dalam memilih
pendamping. Jangan yang hanya datang untuk pergi.
No comments:
Post a Comment