Peringatan!

Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)
atau sertakan alamat blog ini .

terimakasih :)

Monday, January 19, 2015

Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 4

                “udah gapapa, Gani memang bener, lagian siapa juga yang punya pacar.. wlee..” aku mencairkan suasana.

                “jadi, Adit itu siapa?” Dewi masih kepo rupanya.

                “bukan siapa-siapa” kataku

                Mungkin semuanya kurang puas dengan jawabanku, tapi karena ini hari ulang tahunku, mereka enggan banyak bertanya.

                Adit..

                Hmm.. lagi-lagi nama itu muncul dan membuatku gelisah seketika. Pertemuan yang tak lebih dari 24 jam membuatku kalut hanya dengan mendengar namanya. Mengapa ?

                Malam menjelang, Dewi dan yang lainnya pamitan. Aku mengantarkan mereka sampai depan.  Setelah mereka pergi aku segera menemui ibu.

                “ bu, mengapa tadi ibu menyebut nama Adit? Mereka jadi penasaran..”

                “ lah, biarin aja Nisa, biasanya juga kalo nyebut nama cowok nisa ga pernah marah kan, anak-anak juga sudah paham..”

                “tapi bu..”

                “kenapa Nis.. kamu sudah besar. Siapa yang tahu jodoh kita itu siapa. Ibu sudah jelas, bukan jodoh ayahmu..” ibu menarik nafas panjang. Aku merasa bersalah mengingatkan ibu pada ayah yang entah dimana. Aku tahu ibu merindukan ayah. Aku tahu ibu masih sayang sama ayah, walau ibu tidak pernah mengatakannya padaku.

                “maafkan aku bu..” aku memeluk ibu.

                “tak apa Nis, ibu mengerti.. bukalah hatimu Nis.. jangan tutupi hatimu hanya karena kesalahan ayahmu itu” ibu menguatkan aku.

Tok tok tok..

Suara pintu diketuk pelan oleh seseorang. Siapa malam-malam seperti ini datang ke rumah. Ibu berdiri hendak membuka pintu, namun aku melarangnya.

“sudah, ibu duduk saja, biar Nisa yang membuka nya” aku melangkah menuju daun pintu tua itu. 

Dalam hati, entah mengapa aku selalu berharap Aditlah yang datang.

Pintu terbuka pelan, seorang pria membelakangiku. Sepertinya aku mengenalnya. Baju yang sama seperti yang Gani kenakan tadi. Dia berbalik badan, ada yang berbeda. Berbeda karena dia membawa setangkai bunga mawar.

“ Gani? Ada apa?” tanyaku datar.

“ selamat ulang tahun, Nisa” Gani memberikan bunga mawar di tangannya.

“ makasih Gan, tapi.. bukannya tadi kamu udah pulang?” aku heran dengan sikap Gani yang tak seperti biasanya. Gani tak pernah memberikan bunga padaku. Terakhir ku lihat dia memberikan bunga adalah sewaktu smp, itu juga bukan padaku.

“ Nis, aku ..” Gani tidak meneruskan ucapannya karena ibu menghampiri kami.

“ eh,, nak Gani.. kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan ya?” ibu memandang bunga yang ku pegang. Ibu tersenyum.

“ eh masuk di dalam ngobrolnya.. ibu sudah ngantuk. Ibu tidur duluan ya..”

Sebenarnya aku tahu ibu berbohong, ibu hanya ingin memberikan waktu untuk kami bicara, padahal biasanya kami selalu berbincang bersama. Ini bukan jam tidur ibu.

                Aku mengajak Gani masuk. Kami duduk di kursi tamu. Gani terlihat gugup. Kami berbincang banyak hal seperti biasanya. Namun ternyata Gani tak lama di rumah, dia ijin pamit pulang. Aku meng iya kannya. Di depan rumah Gani memberikan aku sebuah kado. Bentuknya kecil. Entah apa isinya. Ku ucapkan terima kasih, dan dia pun pulang.


                Segera ku kunci pintu dan masuk ke kamar. Kado dari Gani kuletakkan di atas meja kamar, entah mengapa aku belum mau membukanya. Aku mengambil posisi tidur. Menatap kado itu sampai aku terlelap.

No comments:

Post a Comment