“udah
gapapa, Gani memang bener, lagian siapa juga yang punya pacar.. wlee..” aku
mencairkan suasana.
“jadi,
Adit itu siapa?” Dewi masih kepo rupanya.
“bukan
siapa-siapa” kataku
Mungkin
semuanya kurang puas dengan jawabanku, tapi karena ini hari ulang tahunku,
mereka enggan banyak bertanya.
Adit..
Hmm.. lagi-lagi nama itu muncul dan membuatku
gelisah seketika. Pertemuan yang tak lebih dari 24 jam membuatku kalut hanya
dengan mendengar namanya. Mengapa ?
Malam
menjelang, Dewi dan yang lainnya pamitan. Aku mengantarkan mereka sampai
depan. Setelah mereka pergi aku segera
menemui ibu.
“ bu,
mengapa tadi ibu menyebut nama Adit? Mereka jadi penasaran..”
“ lah,
biarin aja Nisa, biasanya juga kalo nyebut nama cowok nisa ga pernah marah kan,
anak-anak juga sudah paham..”
“tapi
bu..”
“kenapa
Nis.. kamu sudah besar. Siapa yang tahu jodoh kita itu siapa. Ibu sudah jelas,
bukan jodoh ayahmu..” ibu menarik nafas panjang. Aku merasa bersalah
mengingatkan ibu pada ayah yang entah dimana. Aku tahu ibu merindukan ayah. Aku
tahu ibu masih sayang sama ayah, walau ibu tidak pernah mengatakannya padaku.
“maafkan
aku bu..” aku memeluk ibu.
“tak
apa Nis, ibu mengerti.. bukalah hatimu Nis.. jangan tutupi hatimu hanya karena
kesalahan ayahmu itu” ibu menguatkan aku.
Tok tok tok..
Suara pintu diketuk pelan oleh seseorang. Siapa malam-malam
seperti ini datang ke rumah. Ibu berdiri hendak membuka pintu, namun aku
melarangnya.
“sudah, ibu duduk saja, biar Nisa yang membuka nya” aku
melangkah menuju daun pintu tua itu.
Dalam hati, entah mengapa aku selalu
berharap Aditlah yang datang.
Pintu terbuka pelan, seorang pria membelakangiku. Sepertinya
aku mengenalnya. Baju yang sama seperti yang Gani kenakan tadi. Dia berbalik
badan, ada yang berbeda. Berbeda karena dia membawa setangkai bunga mawar.
“ Gani? Ada apa?” tanyaku datar.
“ selamat ulang tahun, Nisa” Gani memberikan bunga mawar di
tangannya.
“ makasih Gan, tapi.. bukannya tadi kamu udah pulang?” aku
heran dengan sikap Gani yang tak seperti biasanya. Gani tak pernah memberikan
bunga padaku. Terakhir ku lihat dia memberikan bunga adalah sewaktu smp, itu
juga bukan padaku.
“ Nis, aku ..” Gani tidak meneruskan ucapannya karena ibu
menghampiri kami.
“ eh,, nak Gani.. kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan
ya?” ibu memandang bunga yang ku pegang. Ibu tersenyum.
“ eh masuk di dalam ngobrolnya.. ibu sudah ngantuk. Ibu
tidur duluan ya..”
Sebenarnya aku tahu ibu berbohong, ibu hanya ingin
memberikan waktu untuk kami bicara, padahal biasanya kami selalu berbincang
bersama. Ini bukan jam tidur ibu.
Aku
mengajak Gani masuk. Kami duduk di kursi tamu. Gani terlihat gugup. Kami
berbincang banyak hal seperti biasanya. Namun ternyata Gani tak lama di rumah,
dia ijin pamit pulang. Aku meng iya kannya. Di depan rumah Gani memberikan aku
sebuah kado. Bentuknya kecil. Entah apa isinya. Ku ucapkan terima kasih, dan
dia pun pulang.
Segera
ku kunci pintu dan masuk ke kamar. Kado dari Gani kuletakkan di atas meja
kamar, entah mengapa aku belum mau membukanya. Aku mengambil posisi tidur.
Menatap kado itu sampai aku terlelap.
No comments:
Post a Comment