benar,
cinta itu menguatkan, bukan menjatuhkan.
cinta itu menggenggam, bukan melepaskan.
cinta itu mengikat, bukan memisahkan.
benar,
cinta itu rumit, lebih dari rumus-rumus kimia.
aku tahu cinta itu abstrak, aku tahu.
aku tahu cinta itu bukan tentang angka-angka,
aku tahu cinta itu tak sekedar kalimat majemuk ataupun peribahasa yang harus ku artikan.
seperti apa cinta itu?
awalnya ku kira dia makanan,
yang bisa ku habiskan dan kubeli lagi.
namun kenyataan tidak semudah itu.
bagaimana bisa aku menghabiskan satu cinta untuk ku ganti dengan cinta yang baru?
bagaimana bisa aku memakan cinta? menghabiskannya, lalu membeli lagi ?
tidak !
jika cinta dapat kubeli, aku tak mungkin melihat tangisan.
aku tak mungkin melihat banyak orang yang hidup dengan satu cinta.
aku tak mungkin mendengar banyak hal tentang "takdir"
cinta bukan makanan, bukan.
cinta itu air.
bisa tawar, manis, asin, pahit, bahkan beracun.
tapi..
cinta bukan perumpamaan.
Peringatan!
Dilarang meng-copy tanpa seijin yang punya ya :)atau sertakan alamat blog ini .terimakasih :)
Saturday, January 31, 2015
Saturday, January 24, 2015
Please Join and Pantau selalu ya :)
Join bareng aku yuk di G+
https://www.google.com/+KamutentangBlogspot1
ketemu aku yuk di facebook :
cshaarciinhaa@facebo ok.com
follow aku di twitter :
@dinadianawati
share sama aku di Instagram :
http://instagram.com/dinadianawati/
https://www.google.com/+KamutentangBlogspot1
ketemu aku yuk di facebook :
cshaarciinhaa@facebo
follow aku di twitter :
@dinadianawati
share sama aku di Instagram :
http://instagram.com/dinadianawati/
Monday, January 19, 2015
Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 4
“udah
gapapa, Gani memang bener, lagian siapa juga yang punya pacar.. wlee..” aku
mencairkan suasana.
“jadi,
Adit itu siapa?” Dewi masih kepo rupanya.
“bukan
siapa-siapa” kataku
Mungkin
semuanya kurang puas dengan jawabanku, tapi karena ini hari ulang tahunku,
mereka enggan banyak bertanya.
Adit..
Hmm.. lagi-lagi nama itu muncul dan membuatku
gelisah seketika. Pertemuan yang tak lebih dari 24 jam membuatku kalut hanya
dengan mendengar namanya. Mengapa ?
Malam
menjelang, Dewi dan yang lainnya pamitan. Aku mengantarkan mereka sampai
depan. Setelah mereka pergi aku segera
menemui ibu.
“ bu,
mengapa tadi ibu menyebut nama Adit? Mereka jadi penasaran..”
“ lah,
biarin aja Nisa, biasanya juga kalo nyebut nama cowok nisa ga pernah marah kan,
anak-anak juga sudah paham..”
“tapi
bu..”
“kenapa
Nis.. kamu sudah besar. Siapa yang tahu jodoh kita itu siapa. Ibu sudah jelas,
bukan jodoh ayahmu..” ibu menarik nafas panjang. Aku merasa bersalah
mengingatkan ibu pada ayah yang entah dimana. Aku tahu ibu merindukan ayah. Aku
tahu ibu masih sayang sama ayah, walau ibu tidak pernah mengatakannya padaku.
“maafkan
aku bu..” aku memeluk ibu.
“tak
apa Nis, ibu mengerti.. bukalah hatimu Nis.. jangan tutupi hatimu hanya karena
kesalahan ayahmu itu” ibu menguatkan aku.
Tok tok tok..
Suara pintu diketuk pelan oleh seseorang. Siapa malam-malam
seperti ini datang ke rumah. Ibu berdiri hendak membuka pintu, namun aku
melarangnya.
“sudah, ibu duduk saja, biar Nisa yang membuka nya” aku
melangkah menuju daun pintu tua itu.
Dalam hati, entah mengapa aku selalu
berharap Aditlah yang datang.
Pintu terbuka pelan, seorang pria membelakangiku. Sepertinya
aku mengenalnya. Baju yang sama seperti yang Gani kenakan tadi. Dia berbalik
badan, ada yang berbeda. Berbeda karena dia membawa setangkai bunga mawar.
“ Gani? Ada apa?” tanyaku datar.
“ selamat ulang tahun, Nisa” Gani memberikan bunga mawar di
tangannya.
“ makasih Gan, tapi.. bukannya tadi kamu udah pulang?” aku
heran dengan sikap Gani yang tak seperti biasanya. Gani tak pernah memberikan
bunga padaku. Terakhir ku lihat dia memberikan bunga adalah sewaktu smp, itu
juga bukan padaku.
“ Nis, aku ..” Gani tidak meneruskan ucapannya karena ibu
menghampiri kami.
“ eh,, nak Gani.. kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan
ya?” ibu memandang bunga yang ku pegang. Ibu tersenyum.
“ eh masuk di dalam ngobrolnya.. ibu sudah ngantuk. Ibu
tidur duluan ya..”
Sebenarnya aku tahu ibu berbohong, ibu hanya ingin
memberikan waktu untuk kami bicara, padahal biasanya kami selalu berbincang
bersama. Ini bukan jam tidur ibu.
Aku
mengajak Gani masuk. Kami duduk di kursi tamu. Gani terlihat gugup. Kami
berbincang banyak hal seperti biasanya. Namun ternyata Gani tak lama di rumah,
dia ijin pamit pulang. Aku meng iya kannya. Di depan rumah Gani memberikan aku
sebuah kado. Bentuknya kecil. Entah apa isinya. Ku ucapkan terima kasih, dan
dia pun pulang.
Segera
ku kunci pintu dan masuk ke kamar. Kado dari Gani kuletakkan di atas meja
kamar, entah mengapa aku belum mau membukanya. Aku mengambil posisi tidur.
Menatap kado itu sampai aku terlelap.
Thursday, January 15, 2015
lyrics of Maudy Ayunda - know yourself
Hi survivors meet again
I've been avoiding you
My bad was the one you were here
It is not easy for me
It seemed not want to breathe again
Standing in front of you now
The pain this heart pierced
Against love in heart
And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again
Bye-bye again
Although still want to look at you
You'd better not here
It is not easy for me
Stop all the crazy delusion
If you were there and I can only
Inflamed be by your side
Hating my fate unchanged
And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again
Many times you said you love but can not
Many times I have promised to give up
And I know myself efforts do not always succeed
And I know myself efforts do not always succeed
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone
Go, disappear alone
Go, disappear alone again
I've been avoiding you
My bad was the one you were here
It is not easy for me
It seemed not want to breathe again
Standing in front of you now
The pain this heart pierced
Against love in heart
And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again
Bye-bye again
Although still want to look at you
You'd better not here
It is not easy for me
Stop all the crazy delusion
If you were there and I can only
Inflamed be by your side
Hating my fate unchanged
And my quest to know yourself is not always successful
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone again
Many times you said you love but can not
Many times I have promised to give up
And I know myself efforts do not always succeed
And I know myself efforts do not always succeed
Sovereign, when you showed it stays like this
Without ever we can together
Go, disappear alone
Go, disappear alone
Go, disappear alone again
Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 3
Iya, aku
memang seperti mendapat luka yang amat perih saat ayah meninggalkan kami untuk
wanita lain yang notabennya janda.
Aku tak
cukup kuat menerima pengakuan ayah bahwa ia akan pergi dan memutuskan
menceraikan ibu. Meninggalkan aku anak semata wayang mereka.
“iya,
nisa pasti masih sedih karena..” ucapan ibu terpotong oleh kehadiranku.
“ibu,
jangan.” Ucapku.
Ibu
mengerti arti dari perkataanku, adit hanya mengerutkan dahinya pertanda tak
mengerti dan mulai kepo.
“nah
loh, katanya mau mandi, ko balik lagi?” tanya Adit.
“mau
ambil handuk”
“oh
iya, kayaknya Adit harus segera pulang bu”
“pulang?”
“iya
bu, makasih ya bu, nis.. sudah membantu saya tadi malam bahkan mengijinkan pria
malang ini untuk bermalam..”
“huss,
nak adit ga boleh bilang seperti itu. Ibu dan Nisa ikhlas ko,”
“makasih
bu, Adit pamit dulu ya..”
“Nisa..?”
ibu mengejutkan lamunanku.
“ ya
bu?”
“
kenapa kamu diam saja? Itu nak Adit mau pulang”
“eh..
i..iya.. pulang aja sana”
“huss,
jangan gitu nisa..”
“tidak
mengapa bu, nisa memang orangnya gitu, suka bercanda.” Timpal Adit.
Adit
melangkah pergi, kulihat punggungnya yang sendu. Pria yang misterius. Rasanya
ada kesedihan dalam hatinya yang tak pernah dia katakan pada orang lain.
Bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan. Aku segera ke kamar mandi untuk
mandi.
Sore
ini teman-temanku datang ke rumah, mereka ternyata mengingat hari ini. Sambil
membawa kue mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” seperti anak SD. Padahal
usia kami sudah 18-19 tahun. Tak ada yang berubah pada kami berlima. Dewi yang
tomboy, Anis yang muslimah banget, Alya yang manja, Gani yang pendiem, dan aku
yang semerawut. Kami sudah bersama sejak kelas 1 smp, sekarang kami kelas 3
sma. Persahabatan yang menyenangkan bersama mereka.
“eh, ga
kerasa ya, kamu sekarang udah tua lagi, padahal berasa baru kemarin nyiram kamu
pake tepung di sekolah” ejek Dewi. Aku mengerutkan dahi , ingin sekali mencubit
pipinya yang tembem itu.
“ iya,
kalo udah tua kayak gini harusnya udah punya pacar nih.” Alya meneruskan.
“apaan
sih kalian, baru juga 18.. bukan 81.. hahaha” aku membalas.
Tiba-tiba
aku teringat Adit. Kira-kira dimana dia sekarang..
“haloo..
ehemm ehemm..” Alya mengganggu lamunanku.
“kenapa
Nis?” Adi yang sedari tadi diam dengan kue ditangannya berbicara.
“ tak
apa, hanya..” obrolanku terpotong oleh kedatangan ibu.
“Nisa
pasti masih ingat sama nak Adit , makanya dia melamun” ibu tersenyum , muka ku
merah, tak menyangka ibu mengatakan itu pada sahabat-sahabatku. Ya,, walaupun
ucapan ibu itu benar. Semua memandangku, mereka mengira pria bernama Adit itu
adalah pacarku.
“heh,
ngapain sih kalian mandangin aku kayak gitu?” aku menyadarkan mereka
“ jadi
,, kamu udah punya pacar?” tanya Alya
“
kenapa kamu ga bilang kita sih?” dewi memasang wajah cemberut
“ mana
pacar kamu? Kenalin dong!” Anis bersemangat.
“pacar?
Kamu yakin?” tiba-tiba ucapan Gani seakan membuat suasana menjadi kaku.
“loh,
emang kenapa ? kan bagus kalo Nisa udah punya pacar..” Anis membalas Gani.
Sebenarnya
aku berpikir Gani benar, aku memang susah untuk jatuh cinta. Walaupun aku jatuh
cinta, aku tak akan pernah berpikir untuk berpacaran. Aku masih trauma dengan
perginya ayah dari kehidupan kami. Aku harus sangat selektif dalam memilih
pendamping. Jangan yang hanya datang untuk pergi.
Friday, January 2, 2015
Cerita Bersambung : Make Me Something - Part 2
Malam itu berlalu dengan panjang, aku masih saja tak bisa
terpejam. Hingga pagi datang dan dia terbangun. Pagi sekali ibu sudah pergi ke
pasar , aku membereskan rumah . tiba-tiba sebuah tangan kurasakan menepuk
pundakku, saat ku toleh..
“hahahahaha..
selamat ulang tahun !!” teriak adit sambil melempar tepung ke arahku.
Bagaimana
bisa? Bagaimana bisa dia tahu hari ini hari ulang tahunku? Bagaimana bisa dia
menyiapkan semuanya? Tepung itu? Darimana dia mendapatkannya? Bukankah ibu
barusaja pergi ke pasar untuk membelinya.
“eh? Ko kamu tahu ini hari ulang
tahun aku?” tanyaku ketus
“anak cantik jangan ketus-ketus..
nanti jadi jelek, apalagi wajahnya putih-putih,, ihhhh..serem .. hahahaha”
“jadi kenapa? Kok tahu?”
“bukan tahu, itu tepung dek.”
“astaga..” benar-benar bikin nafsu
meledak ini cowok, pikirku..
Akhirnya kuputuskan melempar telur
yang ada di dapur..
“hahahahaha..” tawaku meledak
seketika. Melihat dia berlumurkan telur,, dan baunya tidak seindah bayangan
kalau udah ku goreng nanti siang.
Dia pun berlari mendekatiku, mencoba
memberikan sisa-sisa telur diwajahnya. Aku berlari dan tak sengaja menyenggol
kursi itu, tiba-tiba..
Brugggg...
Tangannya yang sigap menangkap
badanku yang hendak jatuh. Dan dia bersedia menjadi kursi empuk saat aku
terjatuh.
“aww,, sakit tau, “
“laah? Siapa suruh jadi tempat
duduk?”
“eh? Yang bikin sakitnya bukan
jatuhnya, tapi beratnya. Lu berat banget , berdiri sanah!”
“eh iya, maaf”
Pintu pun diketuk, ibu sudah pulang.
“nisa, ibu pulang.”
“iya bu, sebentar.”
Aku segera berlari menuju pintu, dan
saat pintu terbuka. Ibu kaget dan langsung tertawa.
“hahaha,, aduh nisa abis ngapain
kamu, kamu kenapa wajah belepotan kayak gitu, ada teman-temanmu ya?”
“ngga ada bu, tanya aja sama Adit,
aku mau mandi dulu”
Kataku ngeleos aja ke kamar mandi.
“loh? Nak Adit kenapa nak adit bau
amis gini? Itu rambutnya kenapa,.” Kata ibu sambil nahan ketawanya.
“ga kenapa-kenapa bu, tadi cuman
bercandaan sama Nisa, hari ini kan Nisa ulang tahun.”
“loh? Bagaimana nak Adit tahu?
Padahal ibu belum mengucapkan apapun”
“tadi malam aku ga sengaja lihat
buku lapor Nisa di atas kasur, ada nama NISA KHADIJAH di bukunya , ada tanggal
lahirnya juga.”
Memang aku barusaja menerima raport
dari sekolah, dan aku bangga hasilnya 9 semua.
Ibu rencananya mau merayakan ulang tahunku dan
hasil Raportku kemarin.
“baguslah kalo nisa dapat teman baru
seperti nak Adit, pasti Nisa bisa cepat lupa sama luka hatinya”
“luka..?” Adit terperangah.
Subscribe to:
Comments (Atom)